Thursday, January 21, 2010

MARRIAGE OVER WEDDING

Ketika SMA, saya mempersiapkan mental untuk menikah di usia 21 tahun. Tapi kenyataannya, hal tersebut baru bisa terwujud 5 tahun kemudian. Kalau kata Alanis Morisette, "What took me so long?". Iya, what took me so long sampai baru bisa menikah sekarang? Faktor pemakan waktunya sih banyak ya. Misalnya, pacar A tidak siap nikah, pacar B tidak serius, lalu pacar C dibenci orangtua. Sampai akhirnya saya bertemu dengan Bapak satu ini, yang tidak dibenci orangtua saya, punya modal, dan (ngakunya) siap nikah.

Most importantly, he loves me. A lot.
(Geez, where have you been all my life?)

Alhamdulillah.

Alhasil lahirlah blog ini. Tapi kemudian saya mikir: Hokelah, blog ini dibuat dengan tujuan utama membahas segala yang cantik-cantik untuk hajatan kami nanti: baju pengantin, dekorasi, bebungaan, makanan, dst. Tapi setelah hajatannya usai dan yang cantik-cantik itu hanyalah menjadi kenangan, terus apa?

Menjalani pernikahan bahagia, tentunya. Saya meringis melihat pesta kawinan Reza-Bia yang biayanya 16 miliar, tapi saya lebih meringis melihat teman-teman saya yang cerai satu-persatu. Keliatannya kok gampang banget, kaya' ganti kolor. Amit-amit. Padahal kalau kata Edward Suhadi, seorang wedding photographer, pesta megah meriah nggak ada artinya SAMA SEKALI kalo kehidupan pernikahan lo nanti nggak bahagia. Pesta boleh cantik, tapi kehidupan pernikahan saya harus jauh lebih cantik. Kompak. Tabah. Keren. Awet. Seawet pernikahannya Carl dan Ellie. Atau orangtuanya Mas Edward :)

Mas, I hope you don't mind me quoting you here, ya (taken from his blog):

Marriage Over Wedding

Hoohum… a bit teary eyed just preparing this post. This is one emotional blog entry.

My parents is celebrating their 43rd wedding anniversary today, 8 December 2009. Forty-three. That’s quite a long time.

As their ‘real’ child (they have lots and lots of children, hehe… more on that later) I know things haven’t always been easy on them. They have gone through a lot. My brother’s birth (my older brother is paralyzed from birth), family issues, character differences, economic crisis of 98, and of course, raising me (hahaha… kidding).

Don’t get me wrong, I work in this industry, but seeing them working their marriage day by day, I often got reminded that no matter how beautiful your wedding is, how extravagant and how amazing the pictures turned out, all those pages of memories is nothing, zero, if you don’t have a great marriage afterwards. That is why, deep down in our hearts, we know there’s nothing more heart-warming like the sight of grandad and granny walking down the road, hand in hand.

Everybody who is doing weddings week in week out could easily got bored seeing the flowers, the dress, the pictures, the decorations, etc. But we are always inspired by stories of great marriages, where you know that ‘love’ is not just a phrase on wedding invitations, but often means tears, sweat and sacrifices.

I often said this to my couples just before I left them after the party, “Congratulations on your beautiful wedding. Let’s have a more beautiful marriage.” I say this by no means that I am an expert. Far from it. But only as a fellow married couple who reminded one another that the journey just had begun.

So to my parents, congratulations on getting through this far. I know, first-hand, that the road hasn’t always been easy. But I pray to the Lord that starting from now on, in your old age, only laughter and joy will dominate your days.

UPDATE: Just like it was meant to be, I bumped into this great companion article for this post from the New York Times: Married Happily (With Issues) – great read for us young couples.

Love you guys,
Edward+Francy

Dan mari kita tonton kembali cuplikan kehidupan pernikahan Carl dan Ellie -- dari film Up -- yang super keren ini. Emang kampret ni adegan! Gue nangis sampe tiga ember nontonnya, ahuhuhu... Saya selalu berdoa siang-malam agar kehidupan pernikahan saya nanti seperti ini: sederhana, nggak banyak cingcong, ikhlas, dan seru :)



Hope they inspire bride everywhere to fight for their marriage later, despite anything, until the end of time. Amin!

13 comments:

Edward said...

Hai there Lei. Thanks for writing me in. Memang adegan di UP itu tak ada tandingannya. Really sweet and true in the simplest form. Good luck on your wedding preparation. Email me if you need anything :D

prin_theth said...

Oh my, the renown Edward Suhadi just left me a comment! I'm star-struck! Hahaha. Thanks you, ya. Your blog post actually inspired me to write this piece. And I will surely e-mail you if I need anything, ahem :D

PS. The 'Marriage Life' scene in 'Up' IS utterly sweet. Terharuuu.

Fry said...

Aaaawwwhh... aren't we all want to be Carl and Ellie!! Amin ya La... semoga kita dan pasangan masing-masing bener-bener langgeng sampe tua, dan dijauhin dari yang namanya cere'. Amiinnn.

prin_theth said...

Amiiin! Tapi asli, waktu gue nonton adegan Up ini, gue sampe bikin kolam sendiri di kursi bioskop. Sampe yang cegukan gitu nangisnya. Semoga kita sekompak itu ya sama suami masing-masing!

-mf- said...

good luck with the wedding preparation ya.
will visit this blog again and again ;)

prin_theth said...

MF: thank youu :)

Oni said...

Lei, Reza kawinannya ampe 16 M? Super gokillll..pantes kewongannya gitu

prin_theth said...

Yaaa begitulah hehe :D

Anggi Karimuddin said...

Hahaha film Up emang nendang berat yaa.. Cuman film itu yang sukses bikin suami gw nangis beneran TIAP kali nonton adegan Carl dan Ellie. Gw nya sih cuman senyum2 aja terus ngetawain suaminya nangis (istri tidak berperasaan :lol: )
Tapi bener say.. Memang perjuangan sebetulnya baru dimulai setelah pernikahan dilangsungkan.. But it's all good lah bu.. Yg penting kalo lagi marahan sama suami inget aja sayang-sayangan jauh lebih enak ko.. Hihihi.. ;)
Oh iya, I'm officially lovin this blog.. :) Posting teruuus ya bridezilla.. Cups:-*

prin_theth said...

InsyaAllah ya Mbaaak. Emang, kehidupan pernikahan kita harus jauuuh lbh kece daripada pestanya. Mbak kok bisa gak mewek sih pas nonton Up? Mental bajaaa... hahaha...

Anggi Karimuddin said...

waktu pertama kalinya nonton Up aku nangis.. tapi yang kedua ketiga sih biasa aja.. Kalau si mas tiap kali nonton Up pasti selalu nangis.. :lol: Nah yang bikin aku selalu heboh nangis sampe sesenggukan itu malah A Walk To Remember nya Mandy Moore.. Hahahah norak yaw :P

Leony said...

Lei, gue jadi mundur ke postingan perdana elu, dan ini adalah postingan kedua yah...dan hmm... kaget juga, soalnya Edward Suhadi is my wedding photographer hahahahha... Ya, gue milih dia jg dengan berbagai pertimbangan, salah satunya adalah personality despite his production of beautiful pictures.

And... agak agak miripnya gue sama elu, gue malah lebih parah... udah book tempat 15 bulan sebelum W-day huahahaha... Orang Katedral jg bingung pas dia nanya tanggal nikah gue, die sangka taon ini ga taunya taon depan. Rencana mo jadi penganten santai nihhhh....and, the same thing lagi.... dia ngajak nikahnya juga, 2 bulan setelah kita jalan! Huahahaha.... and somehow, gue asik-asik aje tuwwww alias menerima hahaha... so far so good lahhh...

And samanya lagi apaan yeh... oh iye, my husband to be juga memutuskan melepaskan PRnya dari Xinciapoh, keputusan besar lantaran sejak lulus SMA kagak idup di Indo (and dia gak tahan binti frustrasi pas gue lantaran jaraknya ujung ke ujung and Jakarta macetnya ngajubileh)

Bedanya gue sama elu, gue nikahannya "kayaknye" sih kaga bakal ribet lantaran kagak perlu pake upacara adat dll, tapi gue menyadari, nikahan dan business nikahan ini = MEMBUAT KANTONG BOLONG! Yippieeee...!! Hip hip hura !! *meratap, kayaknya laki gue bakalan gue kasih nasi putih, telor ceplok sama kecap aje buat konsumsi sehabis kawinan selama beberapa bulan kedepan*

Ya ampyun gue jadi curhatan... jadi pengen bikin blog juga buat wedding preps. Tapi gue asli cape ati sama para gadis gadis yang kompetitif dan keep asking about wedding vendors, apelagi nikahan model internasional kan mirip2 semua. Cape daaaahhh....

prin_theth said...

Halo Leony,

Ooo ternyata kita punya banyak kemiripan yaa. Hehehe.

First of all, I LOVE Edward Suhadi! You should be so lucky ah!

Wah, gue nggak akan bisa deh kayak lo, bisa santai menerima pinangan hanya setelah 2 bulan pacaran. Hehehe. Waktu pacaran sama T, gue punya banyak pertimbangan sih, dan akhirnya menikah lbih karena pertimbangan logis, bukan karena dimabuk cinta (I hope you get what I'm saying haha)

Soal PR Xinciapoh... Gila, suami gue tuh jiwanya sangat lebih Spore dibanding Indonesia! Dia pun akhirnya melepaskan PR-nya cuma karena perlu duit CPF hahaha. Secara jiwa, dese sih masih Spore banget.

Bahkan, dia sempet tergabung di timnas soccer Spore, jadi selama piala AFF ini, dia nggak mendukung timnas Indonesia sama sekali. Malah sebel banget, katanya. And he got really brokenhearted when Spore got eliminated hahaha...

Oh yes, pernikahan internasional yaa :) Dijamin lebiiiih simpel dan mudah dibandingkan pernikahan adat Indonesia. Udaaah, bikin wedding prep blog ajaaa.. Soalnya calon-calon penganten yang kepo dan kiasu, bisa dicuekkin kok! Gue juga sempet ngalamin soalnya hehehe