After we've fully decided to get hitched, the next mandatory step was, of course, to meet the parents. Jeng, jeng!
Saya dan T sih pengen secepatnya mempertemukan para ortu untuk diadu gulat (ya nggak dong, tentunya untuk diskusi bareng). The thing is, T's parents live in a Sumatran city, jadi khawatir bakal rempong mengatur pertemuan parents vs. parents ini.
Tapi setelah disampaikan, ortu T langsung setuju untuk datang ke Jakarta demi bertemu keluarga saya. Kirain yang bakal datang cuma sang papa dan sang mama, eh TERNYATA! Papanya T grogi kalo hanya berdua gitu. Akhirnya beliau mengajak ketiga kakak-adiknya T, lengkap dengan suami/istri dan anaknya masing-masing. Kata beliau, supaya suasananya 'cepat cair'. Padahal, kakak sulung T juga tinggal di Pulau Sumatra, tapi si Kakak tetep datang dengan suami dan anak-anaknya. Ya amplop, makasih ya :)
Alhasil, yang kirain bakal menjamu dua orang saja, tau-taunya bererot sampe sepuluh orang, termasuk para balita dan susternya. Lucu deh. So it's family vs. family now.
-----
The day finally came. My mom fully evolved into a momzilla since morning, freaking out about every single detail, dari yang perlu sampai nggak perlu. Padahal acaranya sih akan simpel aja: rombongan T datang sehabis maghrib, ngobral-ngobril, lalu menyantap prasmanan yang disuplai oleh temennya nyokap yang disumpah-sumpah pasti enak (padahal... xp. More on this later).
My responsibility was to move the furniture around until our living room is spacious enough to hold the guests, and buy some flowers & dessert cake.
Unfortunately, life was trying to be funny because on this important day, my body decided to be sick. My temperature shot up, cold sweat ran down on my forehead, and massive headache attacked me mercilessly.
Thank God, T was kind enough to drop by in the afternoon to help me get the flowers and the cake. For the flowers, I simply grabbed them from the stalls in front of Hero Kemang. Yang gampang aja deh. For the cake, I bought my forever favorite cream cheese cake from Stella's in Cipete, also very nearby. Duh, heavenly sekali ini kue, meski mungkin nggak semua suka cake yang milk-and-cheese galore gitu. Biar, deh.
After T helped me with my things, and still managed to had a little fight with me (harus ya, pake berantem segala), he went back home to prepare himself and his family.
Saya pun mandi, dendong, dan semprot-semprot minyak nyong-nyong.
-----
Jam 7 malam teng, rombongan keluarga T datang dengan grogi, disambut dengan lebih grogi, hihihi. Setelah cipika-cipiki dan basa-basi, papanya T memulai kata-kata sambutannya, lalu memperkenalkan anak-anak dan menantunya satu persatu.
Saya sempat bangga sekali, sewaktu T diperkenalkan oleh papanya. Dijelaskanlah panjang lebar bahwa calon suamiku iki pintar dari SD, dapat beasiswa dengan keringat sendiri di Singapore dari SMP sampai kuliah, dan akhirnya kerja disana. Yang pertama di keluarganya :) Ia pun atlet berbakat di berbagai cabang olahraga, sampai masuk timnas Singaparna. Mudah-mudahan pinternya nular ke istri dan anakmu ya, bib.
Setelah itu, gantian bapak saya memulai speechnya. Tapi berhubung anaknya cuma cewek-cewek dua biji, dan nggak pernah mengukir prestasi apa-apa, jadinya lebih singkat. Hahaha, memalukan.
Kemudian kami duduk terpisah. Ortu saya, ortu T, saya, dan T duduk di ruang tamu A, sisanya duduk di ruang tamu B. Inilah momen absurd, karena pada saat itu saya sungguh bingung ini arahnya mau kemana. Penghuni ruang tamu B asik becanda dengan para balita, papa-papa sibuk ngobrolin bisnis, sementara mama-mama mati gaya sendiri, berhubung dua-duanya semi-jaim. T terlihat biasa aja alias cuek, sementara saya nggak bisa banyak bicara karena pusing dan demam. Tidak ada secuilpun pembicaraan mengenai pernikahan.
Ke-awkward-an ini berjalan selama hampir sejam, kebayang nggak sih senewennya.
Lalu kami pun makan. Ini juga semi disaster menurut saya, karena makanan dari temen nyokap, yang udah dipromosiin habis-habisan itu, ternyata nggak enak. Nggak ada yang komentar, tentunya, tapi saya kepengen melepeh makanan yang saya suap. Hambarnya cing, ampun deh. Untung ketolong dessert yang lumayan.
Setelah itu, lanjut ke acara ngopi-ngopi sampai hampir jam 9 malam, sampai T memberikan kode-kode ke papanya yang kira-kira bermaksud, "Pa, udah dong, ngantuk nih, to the point yuuuk..."
Akhirnya, papanya T mengutarakan inti dan hakikat rombongan ini bertandang. "Sejak pertama kali Dedek nih mengabari kami, bahwa dia sudah serius dengan Lei, kami pun bahagia dan menyambut baik. Untuk rencana lebih detailnya, kami serahkan saja kepada anak-anak. Pada intinya, kami ikut anak-anak saja..."
Yassalaam, begitu doang, lho. Hihihi, anti-klimaks, deh. Karena sudah dikasih slot begitu, T langsung nyamber, "Oke, Ma, Pa, Om, Tante, setelah mempertimbangkan anu-itu, Dedek ni rencananya mau lamaran tanggal sekian, dan resepsi tanggal sekian, adatnya adalah anu, itu, bla bla bla..." Business tone-nya keluar banget, sementara para ortu hanya manggut-manggut.
Lucu sekali ya, betapa terbaliknya jaman sekarang dengan setidaknya sepuluh tahun lalu. Dulu para anak hampir tidak ada kuasa sama sekali dalam menentukan ini-itu, sementara sekarang, orangtua malah pasrah. Boro-boro nentuin tanggal baik. Apa ini keluarga kita aja ya?
Akhirnya tiba juga waktu gelang sipatu gelang, mari pulang marilah pulang. Sebelumnya tak lupa saling bertukar oleh-oleh kecil: kami memberikan bungkusan makaroni schotel, sementara mereka menghantarkan duku dan empek-empek dari ranah Sumatra.
Alhamdulillah, kelar juga setelah 2,5 jam. Bukannya sadis, tapi karena demam, jalan saya udah sempoyongan dan khawatir sewaktu-waktu pingsan di tempat.
Ah, yang penting urusan meet the parents jilid pertama ini sudah kelar, dan kami bisa beranjak ke langkah berikutnya. Woot!
-----
PS. Mempromosikan balik Tuan Putri Dayasmin: go to my friend's hilarious wedding blog, superbridezilla.blogspot.com, sesi kenal-kenalan dia lebih seru daripada gue!
-----
PS. Mempromosikan balik Tuan Putri Dayasmin: go to my friend's hilarious wedding blog, superbridezilla.blogspot.com, sesi kenal-kenalan dia lebih seru daripada gue!
10 comments:
i got the flowers from the stalls in front of hero kemang too :)
Eh itu yg kayak kue lucu berbintik2 di atas tuh apa ya bok?? menarik banget kayaknya!
MF: I have a feeling rumah kita dekat sekali ya haha
Frida: Itu cookies yang beli nyokap, gue nggak tau dimana. Lucu yaaaa... Tapi kemanisan buat gue huhu
tanpa bermaksud meledek, hanya mempertanyakan: dedek??
CP: Yesss, nickname: Dedek. Soalnya dia direncanakan jadi anak bungsu... sampe adeknya tiba-tiba nongol unplanned, haha. Tapi panggilan 'anak bungsu'nya T kebawa sampe sekarang... panjang yaa haha.
Lei..2 questions
1. Seriusan camimu anak singaparna? Jadi abis nikah bakal diboyong kesanakah? waa sama dong kitee! azik ada temen kikikik
2. Lo dulu 70 kah?
@Nadia:
1. Iyah, anak Singaparna dari SMP sampe kerja, tapi dia udah 2 taun di Jakarta hihihi. Jadi enggak ke Singapore lagi... Enggak bareng deh kite :(
2. Yesss, anak 70 :D Pasti banyak kenalan! haha
No wonder ur face seems very familiar.. dulu gue temen sekosannya cherry ma ayu di bandung..hihihi sucha small world indeed
@Nadia: Ahahaha... yayaya, udah dibahas niih sama Ayu :D Small world yes
Akhirnya komen juga setelah sekian lama baca blog mbak Lei dr depan ke belakang, n smp sekarang blm tamat juga nih bacanya.
About anak2 jaman sekarang.... bener bgt!! Sampe malu... Pas lamaran kemaren pas bapaknya Abangku ngasih kata2 pembuka, kata2nya "Kami mohon maaf sebelumnya Bapak, Ibu. Anak2 sudah mendahului kita dalam mengurus semuanya. Jadi kedatangan saya saat ini hanya untuk bersilahturahmi dengan bapak dan ib, karena anak2 yang sudah memutuskan semuanya."
N kata2 itu diulang smp 3x. Malu siihhh... tp kalo nunggu ngurus2 kalo udah lamaran mah waktunya mepet bgt dong ya. Soalnya dr lamaran ke hari H nya aja dah nyisa 5bln. Hehehehehe... Semoga niatan nya dianggap inisiatif aja deh ^^
Masalahnya ortu si Abang juga di Sumatra, jd nanti aq juga ngadain acara dua x jg di Jakarta n d Sumatra. Jadi urus masing2...
Enaknya Mbak Lei dah lulus ya... TT
Post a Comment