Wednesday, February 3, 2010

THE HIGH-PACED METROPOLITAN CITY OF JAMBI (part 2)

Ternyata perjalanan ke Jambi tuh cepet yah. Perasaan baru duduk, eh udah nyampe! Mungkin karena saya terbiasa bolak-balik Makassar-Jakarta yang durasinya lebih lama daripada Jambi-Jakarta.

Mungkin juga karena selama perjalanan, saya kesurupan bawel, dan membombardir T dengan pertanyaan-pertanyaan nggak penting, "Kita sekarang lagi diatas laut apa? Emang Indonesia punya berapa laut? Awan apa sih rasanya, dingin atau biasa? Sultan Thaha (nama bandara Jambi) itu siapa? Emangnya airport Indonesia harus pake nama pahlawan pelawan Belanda ya? Soekarno-Hatta enggak! Kalo Adi Sucipto itu siapa?"

Untung T nggak bunuh diri di jalan.

T sempet kasih bocoran, bahwa persiapan papa-mamanya agak sedikit heboh dalam menyambut kami ini. Kalau mak-bapak gue yang heboh, mungkin normal ya, namanya juga besan pertama (gue anak sulung), tapi siblings-nya T sudah tiga orang yang menikah, so I expected very basic treatments.

Bener aja. Sesampainya kami di Bandara Sultan Thaha, dua calon abang ipar tampak dadah-dadah di pagar, kaya' nyambut kloter haji. Masya Allah, padahal dijemput sopir udah cukup banget, lho. Lah ini dijemput oleh dua set kakaknya T, ponakannya, dan so pasti Yang Dipertuan Agung Papa dan Mama T! Ya amflop...

Kami dijemput dua mobil. Mobil A isinya bokap-nyokapku, dan ortu T. Mobil B isinya kakak-kakak T, saya, T, dan si adek.

Tour De Jambi
Kami mendarat pukul 10, dan keluar bandara pukul 10.30, jadi terlalu pagi untuk makan siang, tapi nanggung kalo mau langsung ke hotel. Tapi  jangan sedih ching, karena Papa T sudah mengantisipasi hal ini dengan membuat acara... keliling kota Jambi!

Jadilah mobil A memimpin jalan, sementara mobil B ngintil, untuk tour de Jambi. Ternyata kota ini memang kecil dan sunyi, ya. Asli, kemana-mana cuma 10 menit, dan suasananya sepiiii deh. Tempat hiburan paling pol adalah pasar tradisional Dua Angsa, dan Ramayana Depstore. Nevertheless, kami diajak liat gedung-gedung pemerintahan, pasar becek, Sungai Batanghari, SD Xaverius sekolahnya T dulu, endebray-endebrey sampai kami muterin Jambi satu lap full. Dan durasi untuk keliling kota itu berapa lama, coba? Cukup 30 menit saja. Iiih, kota liliput...

 

Melihat kegelisahan hatiku yang membara, T sengaja nyiram pake bensin dengan kalimat pamungkas, "Eits, sebasi-basinya Jambi, ini calon kota tempat kita pensiun lho..." Mati!

Pujasera Paling Happening
Jam 11.30, kami udah mati gaya pol. Maka diputuskanlah untuk makan siang. Papa-mama T sudah pesan tempat di restoran Sunda, di sebuah pujasera semacam Kemang Food Fest. Nah, ketika pujasera ini baru buka, sekitar 2 taun lalu, sepupu T yang di Jambi heboh banget. Katanya ini tempat paling keren di Jambi, gaan! Ternyata pas diliat aslinya... sepi dan nggak ada apa-apanya. T misuh-misuh, "Begini nih, yang paling keren?!" Hihihi.

Tapi restoran Sundanya decent kok. Makanannya pun enak-enak. Saya sampe nambah udang galah dua biji.

Selama makan, kami bonding time dengan cukup menyenangkan. Para papa, seperti biasa, bawelnya nggak ketulungan, saling lomba bicara dengan kalimat yang diawali dengan kata-kata, "Oh, kalo saya..." :D 

Saya sendiri sibuk makan dan ngobrol sama abangnya T.

The lunch lasted for almost two hours, kaya' orang Prancis.

Calon Venue
Seusai makan siang, kami pun berduyun-duyun menuju Hotel Abadi tempat saya sekeluarga menginap. Dan rupanya, venue resepsi yang dipersiapkan untuk saya di Jambi, ya ballroom Hotel Abadi ini.

Bagi yang belum tau, nanti saya bakal resepsi dua kali: di Jakarta, lalu seminggu kemudian di Jambi. Jangan tanya kenapa, karena waktu pertama kali denger, saya pun agak heran: buang duit dan tenaga nggak sih? But apparently, the Jambi party is a huge deal for Papa T demi menjamu kolega-koleganya, dan itu berlaku untuk semua anaknya yang menikah. Jadi hukumnya wajib fardhu 'ain! Tolak bacok!

Maka setelah check-in, kami semua nengok sang ballroom. Ballroom Hotel Abadi ini nggak menyatu dengan gedung hotelnya. Jadi beda bangunan, gitu. Tampak luar sih agak mirip Balai Kartini (kalo sambil merem dikit) sementara tampak dalam agak mirip Bidakara (again, kalo sambil merem dikit). Overall, the place was nice, langit-langitnya tinggi, chandeliernya bagus, karpetnya lumayan meski agak gelap.


Setelah liat-liat, saya sekeluarga balik ke kamar, sementara T sekeluarga balik ke rumah mereka. Bobok siaaang... akhirnyaaa...

The Longest Dinner Ever
Malam datang. Kami mandi, berbenah, karena akan dijemput untuk makan-makan malam di rumah T.

Rumah keluarga T ini letaknya agak di pinggir kota, ibaratnya Tangerang (tapi 'Tangerang'-nya Jambi jaraknya cuma 15 menit dari pusat kota, hihihi). Bangunan rumah ini baru, umurnya sekitar 2-3 tahun, setelah sebelumnya ortu T tinggal di rumah dinas selama berpuluh-puluh tahun. The architect and interior designer of the house is a friend of T's brother, who also went to school di Singapore, jadi rumahnya bagus, deh. Pencahayaannya oke, luas, langit-langit super tinggi, halaman gede, enak buat nongkrong, ideal lah sebagai rumah masa tua bareng cucu-cucu, in a modern sense.

Keluarga T yang hadir malam itu ada ortunya, kakak-kakaknya, keluarga kakak-kakaknya, beberapa sepupu, dan sepasang tante-om. Rame pisan. Kami dihidangkan makanan favorit kalo di Jambi: mie celor, sate padang, dan pempek bakar. Nggak lupa buah-buahan yang lagi musim -- rambutan, duku, duren, cempedak, waw! -- dengan jumlah yang berlebihan. Enak-enaaak, deh. T sudah pasti langsung mojok sambil nggerogotin buah-buahan tersebut kaya' codot (pacarku ini cintaaa sekali sama buah-buahan lokal, terutama cempedak. Jadi kalo lagi musim, dia bisa ngabisin segepok cempedak sendiri. Padahal bau banget kaya' ketek).

 Food of the Gods: Duren with lemang

Setelah itu, dimulailah sesi ngalor-ngidul yang rasanya seperti 10 tahun, apalagi digawangi oleh Papa T dan bapakku yang kalo tukar cerita nggak ada remnya. Padahal, semenjak berhenti kerja, jam biologis saya kaya' anak bayi: jam 8 malam udah ngantuk. Maka mata pun langsung kriyap-kriyep. 


Sementara para papa ngobrol, para mama ngebahas rentetan acara pernikahan nanti, dimana saya akhirnya ikutan nimbrung. At some point, Mama T nunjukkin foto-foto kawinan abang dan adiknya T waktu resepsi di Jambi, dengan adat Minang lengkap, tentunya. Waktu ngeliat foto-fotonya, saya langsung istighfar 100x kali, karena sunting ceweknya gadang bana, bundo! Saya jadi terngiang ucapan kakak perempuannya T dulu, "Ati-ati ya, kalo di Jambi pilihan suntingnya berat dan gede semua. Nggak banyak model yang ringan-ringan kaya' di Jakarta." Mati ambo.

 
Nasib saya sebentar lagi:
 

Karena keder, saya kembali melipir ke geng papa-papa yang udah pindah lokasi nggosip di teras belakang. 


Setelah jam berkelontang-kelonteng menunjukkan pukul 11 malam, akhirnya semua kecapekan pol dan keluarga saya memutuskan untuk pamit. Besok kita makan-makan lagi ya...

Tunggu cerita hari kedua!

13 comments:

-mf- said...

ternyata lampu jalan di jambi lumayan well-designed ya. seperti di putrajaya. hehehe...

prin_theth said...

Hehehe, iya cuma satu-satunya di jembatan itu... Nama jembatannya lupa lagi gue...

deNna - aNdRe said...

wah waaaah... selamat ber-sunting-ria yaaaah... :p hihihihi...

Anonymous said...

ya ampun lailaaaa....gue cuma bisa ngakak2 aja nih bacanya. 2 pesta? dengan pajangan pala yg beratnya dreadful? wakakakakakakakaakak......maap yaaaaa ketawa mulu deh eke. Lanjut dong ceritanya neng, ayo neng! bwahahahhah... ^0^

prin_theth said...

gila, dua komen terakhir sadis gila ya! hahaha!

baba said...

@ -mf- totally. jambi itu emang keren banget. pas untuk pensiunan. dan kabar2nya emg si putrajaya jalanannya kyk gitu setelah studi banding ke jambi.

longest dinner ever. totally, dude. migraine karena:
1)memaksakan diri makan duren-cempedak-pempek sepenuh2nya
2)ngobrol dan mendengarkan bapak2 ngobrol dari sawit, pilpres, michael moore (dan adiknya, mandy), dll (well, sebenernya praktis gak ada yg penting, jadi gak ada yang inget)
3)bangun super subuh ngurusin drama tiket pesawat
bertahan sekitar 3 harian lah.. ponstan pun tak mempan

prin_theth said...

@Baba alias T in disguise: Thames dan Seinne River aja katanya nyontek Sungai Batanghari kok! Nah lo, bagaimanakah cara mencontek sungai...

Mandy Moore adeknya Michael Moore! Hahahahaha! Cempedak plugged up your brain yaa, kamu kok jadi agak lucu...

mecaonic said...

halo leija,
blogwalking smpe ksini ni..
salam kenal yaa..

aku jg dulu resepsi 2x, di bdg + di jambi..
hihi, slamat icip2 sunting yaaaa.. :p
lancar2 yaaaaaaaa.. :D

prin_theth said...

masaaa? haha... sama gituh :)
salam kenal juga!

Anonymous said...

lei, gw baru baca yg ini...
mr.T bakalan ngajakin pansiun di jambi?
*tooossss*
ntar kita jadi tante2 arisan di WTC ya... tempat gaol paling gaol se jambi raya.. *cuihhh*
itu itu itu yg jalan deket gubernurannya, deket rumahku... percaya ato ga, dari jaman gw pertama bisa mengingat sesuatu, hingga sekarang, perasaan ga berubah deh itu tempat... :p

prin_theth said...

Aaaaah Tiih, kamu sih anak Jambi tulen yaaa. Gue kan cuma karena ngikut suami, walau berharap gak mau di sana sih hihihi. Gue brojol dan besar di Jakarta sih, kayaknya gak bisa ninggalin... Pas tua mau jadi nenek-nenek gaul yang tiap hari tai chi trus high tea di hotel hahaha. Siangan dikit jemput cucu trus shopping deh!

Ooo tempat gaol tuh WTC yaaa ok ok hmmmm *catet*. Kamu deket Telanai ya? Telanai tuh daerah rumah mertua dan keluarga misua gue hehehe...

Anonymous said...

ga koq lei, aku bakalan ngikut suami juga koq... *preeed*
honestly, gw ga tau dmn tempat gaol jambi, tapi berhubung disana adalah mall paling happening di jambi, dan disanalah jCO baru akan dibuka... (iya lei, baru mau)
btw, nama jembatannya, jembatan makalam...
gw jadi senapsaran dimanakah rumah T.. rumah gw di telanai lei... ke arah lapangan golep...

little_star said...

sumpah yah gw ngakak pas baca ini "Eits, sebasi-basinya Jambi, ini calon kota tempat kita pensiun lho..." Mati!"


HUAHUAHUHAUHUAHAHHUAHUA

btw lagi, itu jembatan makalam