Saturday, February 6, 2010

THE HIGH-PACED METROPOLITAN CITY OF JAMBI (part 3)

Minggu pagi di Jambi, adalah titik paling riweuh selama kunjungan saya disini.

Subuh-subuh, Bapak minta pulang ke Jakarta duluan. Ada pertemuan mendadak dengan orang Korea siang itu, dan nggak bisa dilewatkan. Padahal seharusnya kami semua baru pulang jam 4 sore nanti. Trus karena adek saya berprofesi sebagai asisten pribadi bokap (fo' real), dia musti ngintilin beliau. Alhasil, pagi-pagi T dan mamanya rame cari tiket T_T

Setelah tiket sukses diurus, T datang ke hotel sekitar jam 9 pagi, jemput bokap dan adek untuk diboyong ke bandara. Somehow, kami sempat berantem disini. Dan yang nggak pake udel, berantemnya depan ortu gue! Nggak usah lah diceritain kenapa, but I admit it was my fault to be overly emotional and sensitive, but I also blame T for being ill-mannered to me.

Let's have a bit of sad time-out here: I just realized that our fights and complaints are becoming more uncontrollable each day, especially from my side. I know this is NOT because of pre-wedding stress -- I don't believe in that -- but just a simple case of my bad temper. Nevertheless, every time I had a fight with T, I remembered what my mom said to me one time, about her habit of hitting me whenever I misbehaved as a kid, "Kakak, setiap Mamah pukul kamu, hati Mamah sakiiit sekali. Jadi percaya nak, setelahnya Mamah selalu mau nangis dan berdoa mohon ampun. Kamu sih nggak tau ya, taunya benci aja sama Mamah." And that, my friend, exactly how I felt after every fight I had with T. Bibih, percaya sama aku ya, rasanya hatiku kacau balau sekali setiap habis kasar sama kamu.

Ladies, trust me, you do not want to be in fighting terms with your men. It's not cute, and it does not spice up your love life. Just be boring and stay peaceful all the time.

Long story short, T drove my dad and sister to the airport, Mom stayed in her room, while I also stayed in mine... crying. Yesss, mewek, bok. Guilty-feeling, sedih, semua campur aduk. Sampai akhirnya T balik ke hotel, kali ini bareng mamanya, untuk jemput saya dan nyokap. Ketika dikabari bahwa T dan mamanya sudah datang, baru deh saya mengelap-elap airmata di pelupuk. Cih...

Sementara mama-mama duduk ngerumpi di lobby, saya dan T ngurus check-out. Disitulah kami colongan minta maaf. Hadeuh, kalo nggak ingat lagi di lobby hotel, saya pasti sudah berenang di kolam airmata buaya sendiri. And T's final words were so lovable, it touched me even more, "So are we back to hugging terms now?" Lalu saya pun dipeluk. Bubar deh semua, bubarrr.

This is what Lady Gaga would call, dramma-ramma-maa.

Udah, ah.

Kembali ke agenda petualangan Jambi.

Batik, Batik, Batik!
Karena nggak banyak oleh-oleh khas di Jambi, Mama T memutuskan bahwa rombongan Jakarta ini diajak liat batik aja. Hey, all ladies like batik, right? Iya sih, meski sejujurnya, saya bukan pemerhati batik. Saya nggak tau tuh apa bedanya batik Cirebon, Garut, Solo, Abu Dhabi, Las Vegas, atau Kiribati. Apalagi motif-motif dan maknanya, seperti sidomukti, sidoluhur, megamendung, prada, de es be. I appreciate and proud of batik as much as an Indonesian should be, but I guess I'm not a huge fan.

Jadi, sewaktu diajak liat-liat "batik Jambi", sudah pasti saya nggak ngerti apa kekhasannya dibanding batik daerah lain (untuk yang lain, jangan ditiru ya. Kalau udah jadi nyonya-nyonya, katanya ada skill-skill yang mutlak dikuasai: beli emas, beli berlian, dan beli batik. So start training your eyes, ladies!)

Di daerah bernama Sipin, ada sebuah jalan (lupa namanya) dimana terdapat toko-toko batik berderetan. Lokalisasi, gitulah. Rata-rata semua sama aja sih. Jadi kalau mau beli batik di Jambi, datang aja ke jalan ini.

Kami belanja di toko rekomendasi kakak perempuannya T. Awalnya saya nyari kemeja buat T, tapi lama-lama nyerah, karena cuttingnya ngasal banget. Nggak rapih.


Maka saya nimbrung aja sama mama-mama, berburu kain. Hasilnya, Mama T dapat 3 kain, T dapat 1 kain, mamaku dapat 2, saya dapat 2, Bapak dibeliin 1 kemeja.
 
One of mine

Kesimpulan saya, batik Jambi bagus-bagus, tapi lebih kasar dan less detailed daripada yang di Pulau Jawa. Satu motif yang saya tau adalah batik tulisnya T, namanya Batik Batanghari. Motifnya besar-besar, dan menurut saya agak maskulin. Ini sotoy-sotoyan gadis buta batik aja lho, ya :D

Penemuan Harta Karun Paling Berharga
Setelah belanja-belanji, aslinya kami mau langsung pulang ke rumah T. Namun Mama T punya ide untuk keliling sebentar. Pertama, kami diajak ke gedung walikota gubernur Jambi yang ternyata megah. 


Kemudian, Mama T ngajak nengok rumah lama mereka yang sebelumnya ditempati selama hampir 40 taun.


Isn't it such a nice place? This is the place where my boy grew up; play bola kaki with his brothers, ketabrak motor sampai nyaris buta, fell down from the rambutan tree, and other boyhood mischievenous, until he left for Singapore to make his family proud, became a man, and returned home to start his own family. With me.

Kok jadi saya yang mau nangis?


It's a very old house, indeed. Lantainya tegel jaman Belanda, langit-langitnya rendah, dan perabotannya antik. Bahkan masih terpajang foto jadul disana-sini. And speaking of foto jadul, di rumah ini saya menemukan setumpuk album foto keluarga T, dari jaman rikiplik. Awalnya yang saya temukan hanyalah foto-foto standar: T masih bayi, abangnya sunatan, bapaknya masih pake kacamata besar kaya' The Beegees, dan lain sebagainya. Tapi kemudian saya menemukan foto paling berharga... foto masa kegelapan T.

Dalam hidup lo, pasti ada masa-masa dimana lo merasa paling keren sedunia, padahal di mata orang lain, penampilan lo sebenernya amat mengerikan. Masa ini terjadi kepada saya ketika SMP, disaat merek-merek apparel surfer sedang meledak, sehingga seragam wajib saya untuk ngeceng di mall adalah celana kargo gombrong Mambo bergaris, kaos ketat Alien Workshop (yang logonya silver hologram), dompet Alien Workshop pake rantai, dan tak lupa kuteks hitam. Bahkan saya pernah berusaha mencukur rambut sendiri demi bisa skinhead... kaya' Denada di album keduanya. What the what?

'Kegagalan' gaya ini terjadi kepada T setelah doski lulus kuliah, dan baru masuk kerja. Kegagalan terbesar T adalah membonding rambut kribonya sampai jadi lurus dan belah tengah. Maksudnya mau David Beckham, tapi malah jadi vokalisnya Kangen Band! Mana mukanya keling gahar lagi, kaya' Krisyanto-nya Jamrud. Sialnya (bagi T), doski foto-foto banyak sekali di masa kegelapannya terebut. Lagi merasa super ganteng kali ya... Lebih sialnya, foto-foto itu saya temukan. Holleeeeeer!
Mateeeeee!!!

Mamanya T syok berat, sampe refleks menepis foto-foto tersebut dari tangan saya. Saya pungut dan kantongi lagi, tentunya! Hahaha!

Dan kini, tidak ada manusia, binatang, atau makhluk gaib yang bisa mematahkan tekad saya untuk memajang seri foto alay-nya T di ruang resepsi kami nanti. Di layar Orion, kalo perlu.

Becanda ya, biiib :) Or maybe not.

Back To Home Sweet Home
Akhirnya kami balik ke rumah T, setelah sesiangan berpanas-panas di jalan. Kami makan siang pindang patin, rendang, dan udang goreng yang super enak, kembali menggerogoti duku dan cempedak, sholat, dan ngobrol-ngalor ngidul sampai tiba waktunya untuk saya ke bandara dan balik ke Jakarta.

(T pulang besoknya, Senin subuh langsung ngantor)

Makasih ya Om, Tante, Kakak, Uda, Abang, and my soon-to-be nephew and niece Ekal dan Ais. Thank you so much for the incredibly warm hospitality, and I'll see you all very, very soon. Gek ketemu lagi yo!


6 comments:

Fry said...

Ahahahaha gw jg dulu punya tuh kaos billabong etc!! tapi ternyata loe lebih ekstrem dari gw! celana kargo?? kaos alien workshop?? untung rambut gak jd di skinhead ya... begitu lagi dong gaya loe! dijamin loe akan menggebrak dunia fesyen dan mungkin... bisa jadi fashion icon yg baru!!

prin_theth said...

Ih, iya emang mau begitu lagi kok Jeung! Gue nurut aja sama mantan fesyen stylist majalah elit remaja endonesi hihihi...

runiindrani said...

dulu gue yg pertama make celana mambo bergaris di skolahan gue. bangganya minta ampun lho *head down in shame*

Anonymous said...

Kaos billabong check! Untungnya celana mambo enggak... skin head sayangnya check!! hahahahahaha...nakutiinnnn

little_star said...

haloooooo... salam kenal yah.
Lagi BW nemu blog ini, baguuus dan lucu banget siiihhh.

Gw orang asli Jambi loh, jadi satu kampunglah yah sama suaminya.

Dan mau ralat dikit, itu diatas bukan kantor walikota tapi kantor gubernur.

Mau lanjut baca lagiiiii

prin_theth said...

Little Star: Halooo salam kenal juga! Ohh gitu ya. Sip sip aku koreksi tuh yaaa