*melirik postingan sebelumnya* Really soon. Yea right, really soon, ndasmu!
Hehehe... ya begitulah. Maksud hati, ingin memposting laporan lamaran langsung setelah acara usai , supaya bisa segera lanjut ke cerita-cerita persiapan nikah. Namun apa daya, kerjaan kantor dan kegiatan semelekete lainnya selalu menghalangi niat mulia tersebut, sampe akhirnya ceritanya basi dua bulan! Ck ck ck.
Oh well, kini sudah saatnya mengambil raket nyamuk dan menyabet diri sendiri, demi menyambung nyawa blog yang napasnya udah Senin-Kemis ini. Hup!
-----
Alhamdulillah, pesta lamaran kami berjalan dengan lancar dan cukup sukses, meskipun sedikit nggak konvensional dan agak memusingkan awalnya, huhuhu.
Semua berawal dari bapak saya. Jadi, pada masa persiapan, beliau 'kan nggak pernah mau terlibat. Namanya juga bapak-bapak, maunya cuma terima jadi, asal budgetnya masuk.
Eh ndilalah, beberapa hari sebelum acara, bokap mendadak mengajukan syarat mutlak yang harus dituruti. Kalo nggak, beliau bakal ngambek. Apakah itu?
Syaratnya: Dalam acara lamaran nanti, nggak boleh ada istilah 'melamar'. Dan yang paling penting, nggak boleh ada ritual bertanya ke saya, "Apakah Lei mau menerima pinangan T?"
Bingung nggak lo?
Begini penjelasannya: Bapak saya itu businessman sejati. Nggak suka berbual-bualan, gombal-gombalan, apalagi bergurindam dua belas a la penyair ranah Melayu. Beberapa bulan sebelum pesta ini, orangtua T sudah datang melamar, dan memutuskan untuk menikahkan kami. Tanggal nikahnya pun udah dapet. Ya, dimana-mana juga gitu ya, pesta lamaran tuh emang selalu formalitas doang, bukan 'melamar' secara harfiah. Wong udah diajak kawin dari kapan tau, kok!
Yang benar-benar datang ke rumah, bawa rombongan ondel-ondel, dan melamar on the spot hanyalah kakek-nenek kita jaman dahulu. Apalagi yang dijodohin: pacaran aja kagak pernah, apalagi melamar secara pribadi, pake berlutut bawa cincin gitu! Terpaksa lah, melamarnya sekalian bawa sekompi keluarga besar, nyamperin rumah sang gadis. Nah, anak-anak jaman sekarang hanya mengikuti tradisi dahulu kala itu.
Jadilah, bapak saya itu jijay sekali dengan acara 'pura-pura meminang' di setiap pesta lamaran. Beliau bilang, malah seperti main drama. Akhir kata, bokap nggak mau tau, nggak boleh ada begituan di acara kami.
Nah lhooo.
Kepala indang langsung puspita rasanya, karena keluarga kami - like all people - terbiasa dengan acara lamaran konvensional, yang pake kalimat melamar pura-pura ("Apakah dik Lei mau menerima pinangan blablabla...") dan diterima dengan pura-pura juga ("Ya, saya mau." Padahal dari beberapa bulan lalu juga udah bilang iya!). Kalopun kami nurutin bokap, gimana cara menjelaskan ini ke keluarganya T? They may not share the same view, yu naw! Kalo nggak suka, kumaha?
Akhirnya setelah berembuk, kami memutuskan untuk ngikut bokap aja. Alhasil, kalimat yang akan dibawa oleh keluarganya T adalah, "Setelah kami melamar beberapa bulan lalu, sekarang kami datang kemari untuk silaturahmi, memperkenalkan keluarga besar, sekaligus membahas kelanjutan rencana blablabla..."
Lalu akan disambut oleh keluarga saya, "OK deeeehhh... Kami juga mau memperkenalkan keluarga besar kami," kurang lebih begitu.
Trus apakah saya tetap bakal diumpetin di kamar? Masih dong. Tapi bukan untuk ditanyakan, "Apakah Lei mau menerima pinangan T?" (again, karena emang udah diterima dari kapan tau, tong). Tetapi untuk disembunyiin aja - mungkin biar keliatan jual mahal dan malu-malu kucing garong! - dan baru dikeluarin waktu mau dipakaikan cincin.
Alhamdulillah wa syukurilah, keluarganya T setuju-setuju aja.
Beginilah susunan acaranya (dengan sedikit bumbu lupa-lupa-inget):
- Rombongan T dateng
- Pemberian seserahan dari T
- Kata sambutan dari Om-nya T ("Kami berterimakasih sudah disambut blabla")
- Kata sambutan dari Om saya
- Saya dijemput di kamar
- Papanya T memperkenalkan rombongan keluarganya
- Bapak saya memperkenalkan rombongan keluarga kami
- Pemberian cincin (yes!)
- Pemberian seserahan dari saya
- Doa bersama
- Kemek-kemek dan hahahihi sampai pulang
Buat saya pribadi, susunan acara seperti ini terasa agak awkward, karena harus menggeser paradigma 'melamar' menjadi 'kenal-kenalan keluarga aja'. Rasanya nggak biasa! Tapiii... ente-ente harus liat waktu bapak saya ngotot. Ngamuk, sodara-sodara! Sampe suaranya menggelegar bagai geledek di siang bolong. "Pokoknya saya NGGAK MAU kalo ada acara pura-pura ngelamar begitu! Semua orang juga tau kamu udah dilamar, dan udah diterima! Ini 'kan pesta basa-basi aja, ya nggak? Jangan main drama-dramaan, norak!"
How do you argue with that? Saya pun hanya bisa menciut dan manut.
Meski demikian, namanya juga anak ya, saya pun berusaha memahami point of view bokap, dan lama-lama lumayan setuju juga. Ngapain pura-pura? Semua orang juga tau kok lo udah dilamar, dan bahkan sudah punya tanggal nikah. Jujur aja, kita pesta lamaran buat pesta doang, and nothing else.
Lagian yah, selain keluarga inti, saya perhatikan nggak ada yang ngeh acaranya seperti itu, hihihi. So everybody wins.
Mungkin ada yang mau meniru? (I doubt it!)
9 comments:
Kita memang selalu inovatif membuat terobosan-terobosan terbaru !
saya setuju bang gets sama om Achmad! team om achmad.
bapakku pasti senang! :D
setuju abis bow. gue pernah memerhatikan sekali bagian tanya2an itu waktu lamaran sepupu gue sekian tahun lalu. mau ngakak deh...sinetron bgt! gue juga ngga ada gitu2an hehe. Hidup si Om!
CP: apalagi ya cep, lamaran yang pake lucu-lucuan gitu, misalnya pas si wakil keluarga mau ngejemput ceweknya, trus dia salah ngejemput, "Apakah ini perempuan yang mau dilamar?" Keluarga si cowok pun bilang "Bukaaaan..." diulang terus sampe 3x, dan si cewek yg beneran keluar.
Berasa nonton OVJ. Menurut gue lucu, menurut bapak gue jijay berat...
Hidup bapaknya Lei!!!
Sori, belon kenalan udah sok akrab. Tp gue baru nemuin blog ini dan sekarang lagi khusyuk baca (eh, dulu gue pengikut sejati blognya yg lama...hm apa ya namanya por que or samting samting gitu? I adore...dore..dore..dore your blogs, that one and this current one too)
Tapi cerita soal bokap loe ini, duhh..gue kagum berat deh. Gue jg ga ngerti prosesi lamaran yang pura-pura belum dilamar itu.
Rika: Oh gitu? Ih akyu sungguh flattered kalo emang suka blognya :D Semoga menghibur dan bermanfaat yaaa. Soal bokap, alhamdulillah kalo turut memuji, karena nggak sedikit yang mencela juga lho. More on this later!
Salam kenal Mbak Lei, baru baca blog yg ini setelah ngikutin let the beast in.
Eh, Mbak, klu Bapaknya ngga suka drama2 an, gombal2an dan basa-basi.... itu,upacara ngeuyeuk seureuh apa ngga protes juga.... itu acara isinya kan penuh basa-basi, drama, gombal-gombalan cunihin, dst....
Home and Family: Ya protes banget. Tapi 'kan nggak bisa semuanya ngikutin protes si bapak. Harus ada kompromi juga sama acara adat yang mau dilaksanakan.
Post a Comment