Pertemuan pertama saya dengan Om Edo terjadi di butiknya di Pacific Place, sekitar tiga bulan lalu. Kami sudah janjian, tapi beliau dateng terlambat, karena harus terlebih dahulu meladeni wawancara dari CNN apa BBC gitu, lupa deh.
Saya dan Mamah nunggu di pantry butiknya yang nyaman (ih, dasar desainer ya, pantry aja sukses dia rancang dengan apik. Meski pantry-nya kecil, interiornya modern minimalis dengan unsur-unsur kayu mentah yang nggak suram, tapi tetep kalem). Jujur saya tegang, karena saya sering denger Om Edo tuh galaaaak. Memang, beliau sangat pintar dan punya segudang pengalaman, tapi diimbangi juga dengan ketajaman mulutnya. Maaakkk.
Sekilas kisah: Waktu sepupu saya nikah dulu, saya nyelonong masuk kamarnya sebelum acara mulai, ketika si sepupu sedang dirapihkan bajunya oleh Om Edo. Namanya juga kepo, pengen dooong colongan ngintip duluan. Wow, kesalahan besar! Waktu itu ya, if looks could kill, saya pasti udah meninggal dengan perih akibat tatapan pisaunya Om Edo yang dilempar ke saya. Langsung saya melangkah mundur, keluar, tutup pintu dengan perlahan, trus nahan nangis.
Setelah terlambat sekitar 30 menit, Om Edo datang dengan tergopoh-gopoh sambil minta-minta maaf. Syuuur, hati agak tersiram air adem, karena tokoh sebesar beliau ternyata nggak sombong, dan genuinely merasa nggak enak karena terlambat. Om dimaafkan!
Perawakan Om Edo nggak jauh beda dengan beberapa taun lalu. Masih slim, masih sawo matang, gayanya masih clean, dandy dan tetap ada unsur etniknya (malam itu: gelang dan tas), masih luwes dan akrab saat berbasa-basi, tapi tegas dan streng kalo menyangkut kerjaan. Saya pun makin dag dig dug.
Perawakan Om Edo nggak jauh beda dengan beberapa taun lalu. Masih slim, masih sawo matang, gayanya masih clean, dandy dan tetap ada unsur etniknya (malam itu: gelang dan tas), masih luwes dan akrab saat berbasa-basi, tapi tegas dan streng kalo menyangkut kerjaan. Saya pun makin dag dig dug.
Sebelum masuk ke pembahasan baju penganten, kami nge-teh dulu sambil ngalor-ngidul. Om Edo cerita bahwa beliau terlambat karena mesti diwawancara oleh media internasional (BBC? CNN?) yang sedang meliput pembuatan kapal replika "Spirit of Majapahit". Om Edo cerita, sang pewawancara bule begitu kagum dengan Majapahit-nya Indonesia, sehingga dia terus memuja-muji budaya kerajaan tersebut. Dia bilang, Indonesia hebat punya Majapahit.
Om Edo diem aja, sampai akhirnya si pewawancara berhenti ngemeng. Begitu berhenti, Om Edo langsung berdiri dan berbicara lantang (sebenernya dalam bahasa Inggris, tapi kayaknya lebih seru kalo saya terjemahkan jadi bahasa gaul): "Eh, jij pikir Indonesia itu isinya Majapahit doang?! Sini, saya tunjukkin koleksi seni dari tanah Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, sampai Irian! Lihat kerajinan emas yang luar biasa indang! Tau nggak soal seni pertunjukkan Indonesia? Tau nggak nenek-nenek penari topeng Cirebon, yang umurnya nyaris 90 tahun, tapi kalo nari gemulainya kaya' gadis perawan? Dan apakah jij-jij sekalian tau betapa dahsyatnya kuliner Indonesia?!"
Bla bli blu Om Edo menceramahi sang pewawancara sambil membuka lemarinya satu persatu, menunjukkan koleksi kain, sunting, gelang, kalung, dan berbagai aksesoris etnik lainnya yang beliau comot sendiri dari suku-suku terpencil di Sabang sampai Merauke. Rupanya Om Edo tersinggung, sang pewawancara cuma bisa mengidentifikasikan Indonesia dengan Majapahit. Astaganagabonaaar, idealis sekaliii.
Sang pewawancara mingkem. Om Edo gemes. Saya dan Mamah bengong dengernya. Ada tho, desainer yang nyampe taraf "budayawan" seperti beliau, dan sangat passionate terhadap budaya Indonesia? Mungkin Om Edo bisa terkesan pretentious, tapi sebaliknya, saya menyimpulkan Om Edo ini emang bukan desainer yang nyari untung atau tenar lagi. Misinya udah misi suci: mengangkat nama Indonesia lewat karyanya *sembah sujud*.
Bukti lain bahwa Om Edo nasionalis banget: begitu Mamah ngasitau bahwa beliau aslinya Sunda, si Om langsung cas cis cus bahasa Sunda. Trus disambung dengan logat Bugis. Kemudian, si T datang menyusul kami. TERNYATA! Om Edo itu dulu tinggal di Jambi, dan ponakan beliau adalah temen SMP-nya T. Alhasil mereka berdua ngobrol bahasa Jambi campur Minang. Waw! Padahal 'kan dese orang Batak ya? Saya pengen berdiri trus keprok tangan! Hebat! Kayak one man show Istana Boneka!
-----
Selesai berbasa-basi, Om Edo pun mulai membahas baju resepsi. Beliau nanya, saya suka warna apa untuk baju resepsi? Saya sih nggak punya warna favorit, yang penting bukan merah atau emas (soalnya boseeen). Untuk baju resepsi, saya terima warna apa aja asalkan sesuai dengan konsep / tema.
Waktu menghadap ke Om Edo ini, ceritanya saya udah punya konsep warna. Bahkan konsep warna tersebut udah saya wanti-wantiin ke orangtua dan dekorator, dan semuanya setuju. Gambar-gambar referensinya saya comot dari website-website bule (sumpah jadi nggak PD abis, berhubung baru ngeh Om Edo nih nasionalis berat), lalu saya susun dengan rapih, trus di-print di Snapy *penting abes*. Sebelum ketemu Om Edo, menurut saya konsep warna saya ini keren dan orihinal banget. Cucok pula untuk dekorasi ballroom.
TAPI, seperti yang sudah kuduga, Om Edo menolak ide saya mentah-mentah. "Ih! Nggak bagus dong ini! Apaan ini warna-warnanya gelap banget, mana ada bunga yang cocok? Kusam pula nanti di kulit kamu! Kamu sih liatnya di kulit bule!"
Dan airmata pun bercucuran di dalam hatiku. Periiih... pediiih... Tapi saya diem aja sambil mesem-mesem jeruk nipis. Kecut. Untung jago ni Om, jadi gue percaya aja!
Tentu saja, Om Edo nggak asal kritik. Beliau kemudian memberikan saran-saran membangun. Menurut Om Edo, baju penganten jangan mengikuti dekorasi. Sebaliknya, semua harus berawal dari baju penganten. Kalo sudah dapat warna baju, dekorasi dan sebagainya ngikut. Kenapa? Karena orang tidak boleh lupa bahwa penganten harus jadi pusat sat sat sat perhatian. WAJIB cari warna baju yang cocok dengan karakter dan warna kulit, supaya sinar dan auranya keluar. Penganten harus paling cantik duluan, nomor dua baru dekor!
Pusing ya. Kebanyakan dari kita 'kan mikir sebaliknya.
Setelah puas berpetuah, Om Edo memandangi diriku lamaaa sekali, sampe saya grogi. Akhirnya beliau dapat ilham dan berucap, "Kayaknya kamu cocoknya pake shocking pink deh..."
SHOCKING, INDEED!
Jangan salah, I think shocking pink is a great color. Tapi saya nggak kebayang merombak konsep warna resepsiku dengan warna dasar shocking pink. Ihik... ihik...
Nggak tau aaaah.
Meski diselipi dengan gejolak hati, pertemuan kami berakhir dengan manis, dan ditutup dengan berbagai kesepakatan:
- Sepakat model baju resepsi saya adalah baju bodo (bukan baju la'bu), apapun warnanya nanti
- Sepakat baju resepsi T modelnya jas tutup dengan songkok yang simpel. Warnanya hitam polos, bukan warna-warna lain (apalagi pink ngikutin bininya!) karena hitam adalah warna para raja Makassar
- Sepakat untuk belanja bahan bareng di toko legendaris Top Lady, Gajah Mada Plaza, weekend itu juga, biar cepet
Oya, yang dibuatin baju resepsi sama Om Edo cuma saya dan T ya. Kalo sekeluarga dibuatin baju, kayaknya kami harus jebol rekening rahasia di Swiss deh...
Edward Hutabarat
Pacific Place Mall, SCBD
Lantai 1, Unit 1-15
Jl. Jendral Sudirman Kav 52-53, lot 3 & 5
Jakarta
Tel 62.21.5797.3803
Edward Hutabarat
Pacific Place Mall, SCBD
Lantai 1, Unit 1-15
Jl. Jendral Sudirman Kav 52-53, lot 3 & 5
Jakarta
Tel 62.21.5797.3803
4 comments:
Lei, gw sangat terhibur baca ini...=)
Aww, kenapakah? Jadi nge-fans gak lo sama Om Edo haha... Gue iya nih, meski dese galak pisan
Ahahaha tulisan setan!! dan gw mulai berpikir ulang tentang warna kebaya dan dekorasi yg sudah dipilih..
Hahaha, kesel nggak lo!
Post a Comment