Baju T beres, tapi apa nasib baju para pria di keluarga inti kami? Kostum yang dipake tentunya satu tema dengan T di setiap acara: beskap Sunda saat akad nikah dan jas tutup saat resepsi. Tapi untuk lebih lengkapnya, berikut adalah daftar kebutuhan seragam mereka:
Akad Nikah
Beskap Bapak
Beskap papa mertua
Beskap abangnya T
Beskap iparnya T
Beskap adeknya T
Resepsi
Jas tutup Bapak
Jas tutup papa mertua
Jas tutup abangnya T
Jas tutup iparnya T
Jas tutup adeknya T
Sejak awal, sudah ditetapkan bahwa beskap dan jas tutup para pria tersebut bikin baru semua, nggak ada yang sewa. Ahuhuhu. Miskin kabeh... Kalo dirasa sayang, mungkin iya juga, tapi masalahnya, Mamah nggak ada kompromi soal sewa-sewaan untuk keluarga inti. "Semua harus baru, nggak boleh ada yang bau gudang! Pamali!" begitu sabdanya. Kalo mau diliat keren-kerenannya, emang lebih enak dan lebih sreg punya beskap sendiri, sih... Alhasil, yang boleh disewa hanyalah berbagai aksesoris seperti blangkon, keris, dan seragamnya sepupu-sepupu lelaki saya.
Saya dan T mah nurut aja sama Baginda Ratu, tapi kayaknya isu ini sempet jadi hal agak 'panas' dalam keluarga kami. Kakak-kakaknya T - dengan sangat dimengerti - keberatan kalo harus keluar banyak duit untuk urusan jait-jait beskap & jas tutup ini. Lah wong udah pasti cuma bakal dipake sekali! Plus, sebagai yang sudah berumah tangga duluan, mereka pasti lebih memprioritaskan keluar duit untuk anak & keluarga, ketimbang untuk jait beskap sekali pake.
Meskipun saya sangat maklum dengan calon kakak-kakak ipar, keinginan nyokap pun bisa dimengerti (sort of), karena di keluarga besar kami, nggak pernah ada yang sewa-sewaan jas kalo ada hajatan kawinan. Bukan cuma keluarga inti, bahkan mayoritas sepupu pun jait from scratch. Kalo kami sewa, ntar nyokap bisa ah - masa - ah - iya - gengsi - dong.... Ah, susi deh. Susi susanti.
Dan untuk menambah kekuatan veto nyokap, bahan beskap & jas tutup kakak-kakaknya T sudah dibeli sejak jauh-jauh hari, nggak pake persetujuan! Ahahaha... Jadi mau nggak mau, emang harus jait. Mamah (dan saya juga sih) bisa nangis kalo segulung bahan dari Gajah Mada Plaza-nya nggak dijait. Soalnya baguuus deh, sampe naksir.
Saya sempet fusiiing tuzuh keliling mikirin ini. Sampe tiap sebelum tidur kudu telponan dulu sama T, membahas permaslahatan indang. Apa solusinya supaya masing-masing pihak nggak tersinggung?
OK, the obvious solution adalah: tetep jait, tapi cari penjait beskap & jas yang (relatif) murah. Dimanakah penjait murah tersebut berada?
Yang pasti nggak bisa di Koh A Fuk, jangan tanya deh... mahaaal...
Kemudian saya sempat mengkoleksi banyak nama. Kata si Tante anu jait disitu aja, kata Mbak itu jait disono aja. Macem-macem deh. Namun pada akhirnya, hanya dua nama yang menjadi finalis: Sundjojo dan Riza Tailor.
-----
-----
Sundjojo, konon katanya, adalah spesialis penyedia beskap Jawa-Sunda / jas tradisional yang sudah tersohor sejak tahun 80an. Pemain lama sekali deh pokoknya. Banyak yang nge-rekomendasiin Sundjojo ke saya karena pengalaman berdekade-dekadenya tersebut. Mbak Anggi pun sempat kesana, dan menurut blog post-nya, emang bagus.
OK deh, gan! Markimel - mari kita meluncur - ke Sundjojo!
Di Jakarta Raya indang, Sundjojo berada di tiga lokasi, yaitu:
- Sundjojo Matraman
- Jl. Tegalan I No. 3H
- Telepon : 021 – 858 1717 / 858 0494
- Sundjojo Mayestik
- Jl. Gandaria III No. 6c
- Telepon : 021 – 725 4119 / 725 3529
- Sundjojo Tebet
- Jl. Tebet Barat Dalam Raya No. 55, Sahardjo
- Telepon : 021 – 850 2223 / 8299 6931
Dan Sundjojo yang kami sambangi adalah Mayestik, karena paling deket sama rumah.
Sesampainya di ruko Sundjojo Mayestik, wow, hawa jadul terasa kental menusuk sanubari! Semuanya tampak decent sih, cuma suasananya berasa 80s banget aja (which is neither a good nor a bad thing ya, biasa aja). Selain berbagai kain batik, beskap, dan aksesoris, mereka juga menjual barang-barang perlengkapan upacara adat Jawa-Sunda, seperti, misalnya, kaset nyinden yang sangat jadul. Cocok lah buat nambah-nambahin koleksi barang vintage!
Mamah pun langsung menginspeksi koleksi beskap mereka dan nanya-nanya harga jait. Overall, I thought they're very decent. Harganya pun masuk - beskap untuk keluarga inti dibawah Rp500,000 lah. Tapi pada akhirnya, mata elang nyokap menilai bahwa beskap-beskap Sundjojo are not that good actually. Whaa--?
Seriously, kadang-kadang saya suka penasaran, di masa mudanya, mata nyokap dilatih dimana sih... di military camp apa gimana ya... Karena selama persiapan pernikahan ini, Mamah sering sekali menilai sesuatu sebagai 'kurang bagus', padahal menurut saya dan orang-orang lain udah bagus-bagus aja.
Menurut nyokap (ini nyokap loh ya, bukan gue), beskapnya Sundjojo terlihat kurang mantep 'gagah'nya karena kurang 'keras'. Lemes-lemes kayak orang puasa minggu pertama, gitu. Kualitas kancingnya pun - bagi matanya yang elang - keliatan kurang mantep.
Maka tanpa berlama-lama, kami cabut dari Sundjojo dengan tangan hampa...
(duh endingnya kayak nelongso amat).
No comments:
Post a Comment