Wednesday, August 11, 2010

"I'LL TELL YOU WHAT I WANT, WHAT I REALLY, REALLY WANT!"

Setelah ditelaah, mungkin penyebab kemalasan saya berburu seserahan adalah karena saya nggak bisa dapetin (sebagian) barang yang bener-bener saya pengenin. Seperti calon penganten lainnya, saya juga punya barang seserahan idaman kok (dibuat jaman masih kuliah hihihi). So - in the words of Spice Girls - if you wanna know what I want, what I really, really want, here are a few of 'em.

1. Kamera DSLR
Dari dulu saya riweuh banget menimbang-nimbang antara beli DSLR atau nggak. Saya sih ngerasa nggak punya skill teknis, ditambah nggak pernah nyoba-nyoba motret pake DSLR acan. Tapi kalo ngeliat hasil jepretan sendiri pake kamera pocket, kok rasanya angle dan komposisinya bagusss (GRnya....). Jadi judulnya, ngerasa nggak punya skill, tapi punya sense of art yang lumayan. At least ada passionnya lah.

Karena barang mahal, saya ngerasa baru pantes beli DSLR kalo skill dan mata saya udah bener-bener terlatih. Nggak mau ah, beli DSLR buat foto asal-asalan. Nah, apakah sekarang skill dan mata saya udah jago? Oho, tentu saja belum. Tapi saya pikir, udah deh, kalo ditimbang-timbang mulu, entar sampe Lebaran Kadal kagak dibeli-beli. Minta beliin buat seserahan aja lah.

Tipe idaman (for now): Canon 550D atau Nikon D700. Lensanya belum tau apa.


Kemungkinan didapat: tinggi, jek. T setuju, nyokap juga setuju, dan kamera DSLR bukan barang langka di Indonesia. Bujetnya? Agak maksa, tapi ada-adain aja deh.

2. Buku Mark Ryden
For those who really know me would know how I worship the painter Mark Ryden. Like, I would literally kiss his feet. He epitomizes everything I love through his paintings: pop culture, lowbrow art, eerieness, and the abundance use of icons and symbols.



Idealnya, saya pengen punya lukisannya, atau diajak ke California dan dikenalin langsung! Tapi, berhubung itu sama mungkinnya dengan nyolong bulan, saya cukup tau diri aja. Untungnya Mark Ryden rutin mengeluarkan artbook sesuai dengan seri lukisannya, jadi punya bukunya aja saya bakal seneng banget kok. 

Seri idaman: Blood atau The Tree Show.

Kemungkinan didapat: out of the question. Waktu saya bilang pengen artbook untuk seserahan aja, Mamah langsung menghujani saya dengan tatapan golok karena dianggap kurang wajar. Apalagi kalo nyokap ngeliat tampilannya Mark Ryden ya. Lagian bukunya harus pesen ke Amazon, karena nggak ada disini. Kalo nyampenya dua bulan, akika keburu kawin dong...

3. Buku David LaChappelle
Like Ryden, LaChappelle's works also define every other thing I love: lowbrow art, celebrities, pop culture, porn, and loud colors. Gaaahhh. I guess he's one of the reason why I prefer shooting people (in action) rather than any other thing, and why I curse myself everyday for not being able to master digital manipulation. Not even photoshop. Shame!

Anyway, sejak tahun 1996, fotografer David LaChappelle mengeluarkan trilogi buku kumpulan karyanya secara bertahap. Kalo beli tiga-tiganya sekaligus, kayaknya bisa dituker sama tas Kate Spade yang leather sebiji, jadi saya rela deh dibeliin yang seri ketiga aja: Heaven to Hell, gresss baru terbit Juni 2010 kemaren (padahal seri keduanya udah ada sejak tahun 1999... ibarat nungguin Toy Story 3 - keluarnya lamaaa banget, dari jaman kuliah). 



Kemungkinan didapat: impossible. Bok, covernya Heaven to Hell aja terjemahan bebasnya La Pieta, yang berarti menampilkan Bunda Maria (played by Courtney Love) nggendong Yesus (played by Kurt Cobain look-alike). Apalagi buku David LaChappelle yang covernya Angelina Jolie orgasme. Kalo buku kontroversial begitu sampe mejeng di deretan seserahan, saya bisa diasingkan ke pesantren Tebu Ireng oleh nenek-nenekku... selamanya...

4. Sepeda low rider
Meski kata orang low rider itu sepeda kompleks, alias nggak bisa dibawa jalan jauh-jauh (soalnya nge-gowes-nya capek!), saya lebih kepengen dikasih low rider daripada sepeda BMW sekalian. Satu-satunya alasan: sadelnya pendek, kaki pun jadi nyampe, hihihi...

Kemungkinan didapat: nggak usah pake tanya. Sekali ketauan sama Mamah, langsung say bye-bye.

5. Some movies that you just can't get it over here
Secanggih-canggihnya pembajak DVD Indonesia, there are just some movies that most likely won't make it to here - khususnya film festival. Here are a few:

Sampe sekarang saya masih kepingin punya film Im Juli, film Jerman yang saya tonton di Jiffest tahun 2000. Itu pertama kalinya saya nonton filmnya Fatih Akin, dan langsung jatuh cintrong.

Trus ada lagi film dokumenter, Mad Hot Ballroom, ditonton di Jiffest 2005 berduaan sama Dara di TIM, jam 12 malem. Pulangnya deg-degan dan kelaparan, but it was all worth it, because the combination of kids and ballroom dancing is just too cute! Percaya atau enggak, di bioskop saya dan Dara tepok tangan standing ovation. We just love seeing this kind of docu.

Yang terakhir, film dokumenter Babies. Dari beberapa bulan yang lalu, bioskop XXI nampilin poster film ini sebagai Coming Soon, tapi nggak keluar-keluar sampe sekarang! Dosa deh XXI mempermainkan hatiku seperti ini.

Kalo dibrerotin, masih panjang daftar film yang DVDnya pengen saya koleksi, tapi nggak ada di Jakarta. However, the idea of buying all these DVDs online terasa merefotkan, mungkin karena saya nggak punya Paypal, dan hampir nggak pernah transaksi online.

Kemungkinan didapat: slim chance, karena saya yakin seyakin-yakinnya, kemalasan T untuk belanja online sama aja dengan kemalasan saya. Belom lagi kalo harus bikin Paypal dulu. Coba deh ntar dibujuk lagi.

---

Le sigh...

2 comments:

-mf- said...

jadi inget pernah cari 'im july' bertahun-tahun yg lalu tapi ga ketemu.
gara2 baca postingan ini cari lagi dan nemu tapi cuma file download. ini baru selesai download.

prin_theth said...

temen gue punya DVD aslinya, tapi nemunya di jerman langsung :p selamat nonton :) cari juga ah.