Thursday, September 2, 2010

PATIENCE IS VIRTUE

Hadaahhh...

Setelah seminggu pleus pleus nggak puasa (soalnya men - btw, kenapa ya bedindeu kalo ngomong suka ngilangin huruf S di belakangnya? Sek, men, rilek...), akhirnya daku puasa lagi. Tapi yaaa, kembali ke masa adaptasi, yaitu lemes dan kelaperan. Kalo bangun sahurnya sih nggak masalah, karena walau nggak puasa pun, eijke selalu bangun jam 4. Cieee, rajin ya? Kayak mau nimba sumur.

Anyway, kembali ke tofik (hidayat). Agak bingung mau ngomong apa nih.

Hmmm.

Oh, karena sedang Ramadhan, ngomongin soal persiapan batiniah calon penganten aja deh.

Menjelang hari pernikahan, ada calon penganten yang puasa Senin-Kamis 1-2 bulan sebelum nikah, ada yang dilengkapi dengan 'mutih' (cuma makan air putih dan nasi putih - I think the purpose is to detox, dan supaya kita belajar sabar dan prihatin nggak makan enak), puasa garam (yang sangat gue yakini bisa menyebabkan kematian saking ekstremnya *dendam, soalnya gagal*), dan tak lupa dipercantik dengan sholat-sholat sunnah - terutama sholat malam - dan mengaji.

Tujuan utamanya, saya yakin, supaya segala hal dilancarkan saat hari H, karena percaya nggak percaya, memang banyak sekali cerita musibah-musibah mengerikan di hari pernikahan, semisal: calon suami / istrinya cold feet trus kabur, sakit parah, mengalami kecelakaan, dan sebagainya.

Tujuan keduanya, supaya mempercantik diri dari dalam. Nah, yang ini saya agak buta. Bagi saya - and this may sound shallow - kecantikan orang ditentukan sama kondisi kesehatan dan perias sih. Kalo udah didandanin sama perias yang jago, semua orang - tukang bikin dosa atau nggak, masih perawan atau nggak - kayaknya keliatan kece-kece aja. Buktinya, saya punya temen dan sepupu yang saya tau alim dan baiiik banget. Ngademin banget deh orang-orangnya. Tapi karena perias manten mereka nggak OK, pas hari pernikahan mereka keliatan demek, nggak kece atau bersinar. Sayang ya :(

Ah tapi saya rasa, segala bentuk persiapan batiniah hasilnya pasti bagus dan barokah. Yang paling obvious, segala puasa dan berdoa tersebut pasti akan membuat kita jadi lebih tenang dan sabar. Nggak mrecet dan ngamuk-ngamuk, betapapun stress-nya di hari H nanti. Dan kalo kita selalu berdoa dan berserah diri, I believe there will be small beauties, miracles and blessings that happen on our wedding day, even if we don't realize it. Amin.

Trus apakah saya sendiri sudah sakseis membangun ritual spiritual ala santri Tebu Ireng? Oho udah kenceng banget dong... niatnya. Kekekek. Ada sih beberapa kebiasaan yang pelan-pelan sedang dibangun (tak usah diumbar ya, entar malah riya'), tapi ada juga ibadah-ibadah sunnah yang baru sebatas niat. Insya Allah akan dijadikan kebiasaan secepatnya.

Oh, tapi ada satu kebiasaan yang alhamdulillah jadi nempel. Jadi gini, you may not see it, but T and I used to fight almost everyday. Brutally. Dulu, setiap pertengkaran diselesaikan dengan airmata dan kata-kata pedih. Tapi sekarang, setiap pertengkaran (walau udah jarang) ditutup dengan membatin audzubillahiminasyaithonirrojiim... jauhkan saya dari godaan syaiton yang terkutuk... Abis itu tutup mata, trus bayangin segala yang baik-baik tentang T. 

Kadang berhasil, tapi kalo lagi ilfil-seilfil-ilfil-nya, ya gagal juga. Tapi walaupun gagal, at least mulut comberanku ini nggak sampe mengumpat. Ngomelnya masih 'sopan', dan lebih ke arah mengkritik daripada memaki. Dibanding dulu, this is such a progress. 

Saya sadar, T nggak akan sekedar jadi 'pacar' lagi. He's going to be my husband. We have to bear each other forever. Dengan kata lain, selama nggak melewati batas, saya harus mempertahankan hubungan ini sampe titik darah penghabisan, meskipun lagi super ilfil atau kesel sama segala kelakuan dan tindak-tanduk sang suami. Moreover, even though he may NOT be the best, I have to think he IS the best, because honey, this ain't high school anymore. Nggak bisa putus balik sesuai emosi. Intinya, back to the traditional values: pasrah dan sabar.

Speaking of which - I hope this doesn't come out as judgemental, but I'd really like to go back to the old-school values that kept our parents together contentedly for so many years, instead of being oh very modern, independent, but ends up in divorce so easily like kids nowadays :)

Ah, mudah-mudahan nggak jadi ketula sama omongan sendiri, hiii amit-amit. We shall have an easy, effortless, loving marriage ya, T? Amin.

Mak, jadi ceramah. I need my own talkshow, deh.

So how's your mental prep?

13 comments:

Unknown said...

kalo aku,,,akhir2 ini malah sering nyolot-nyolotan ma calon suami...padahal kurang sebulan lagi...hehehe

runiindrani said...

duh gue tadi udah komen panjang2 trus ilang.. point is, gue setuju dengan nilai old school lo. gue prihatin dengan gampangnya orang cerai sekarang ini. kyk gak ada susah payahnya gitu mempertahankan perkawinan. kalo lo udah siap kawin, harusnya udah siap juga dengan segala ksulitannya... ya gak? hehehe... jadi komen panjang lagiii. sebetulnya diam2 gue mau membangun suatu fidelity cult. wanna join? =D

Oni said...

Yang ini gue setuju banget!! Gue juga sebelom kawin ga pake puasa2an mutih, senen kemis, dll dsb soalnya menurut eik juga cantik ato kagak solely ditentukan perias dan mood kita hari itu. Terus yang gue lupa siapin tuh mental boook, biasalah nadia underestimate pernikahan.. kirain sama aja gitu kaya pacaran tp sekarang uda bole yg porno porno doooong. hahaha, ya gitu kemaren2 gue kultur syok jadi istri orang..huuu nyesel kenapa engga siap2in mental dari sblm nikah. *curhat*

eh eniwey diet garem tuh ngaruh bok ma keringet.. pas lagi ga mamam garem mau sauna juga keringet ogah keluar. Haha

prin_theth said...

Riesta: Duh, sabar ya :)

Runi: Don't we all? Iya, mak gue juga bilang gitu. Katanya anak jaman sekarang gampang banget cere'-nya, padahal orangtua jaman dulu setengah mati mempertahankannya. Istri-istri pada nelen bulet-bulet segala rasa gondok meski suaminya selingkuh, kurang ajar, dll. Meski kita jgn semenderita itu, but we should put some effort on it ya nggak... I wanna be the VP of your Fidelity Cult Club pwease!

Nadia: Hahaha embuur, soal kecantikan, I solely believe in the power of perias and mood. Eh tp jadinya berhubungan... Gue niat-niatin ibadah sunnah demi ketenangan jiwa, sehingga niscaya mood pun bagus. Cantik deh!

Eeeh kamu nggak siap mental apaaa... Kan kayaknya dirimu seneng2 aja, paling bosen2 dikit ya jadi tai-tai? *sotoy* ceup ceup, yang bahagia atuuh...

Gue nggak kuat diet gareeeem! Keseeel! Gagal mulu padahal pengeeen hiks...

Oni said...

Iya mangkanya la, saking awalnya seneng2 aja, eh pas uda kawin wedeh ko beda yoh.. dulu kalo mau ngamuk langsung bentak, hajar, pergi, mewek ga kompromi. sekarang mau gitu lah ni orangnya ko ga pegi2, mau nyari nu anyar tos teu tiasa. hihihi

Memang butuh mental kayaknya.. ayo perbanyak ibadahnya biar patience menggunung!

prin_theth said...

AHAHAHAHA...'mau nyari nu anyar tos teu tiasa', paling beneeur...

misfah said...

awal-awal nikah emang shock culture juga...namanya kita dari keluarga yg berbeda, cara makan, tidur, naruh sikat gigi aja beda...tapi jauh-jauh kesini apalagi sudah berbuntut, aku ngga terlalu mikir yg kecil-kecil gitu bisa sutris...kadang sekali-sekali berantem ngga apa-apa malah yg diam-diaman terus gitu yg bikin tersiksa mending diungkapin aja daripada nyiksa dihati. Perkawinan ortu kita yg langgeng itu juga melalui jalan berliku dan berkerikil, tapi mereka berhasil meliwatinya walau itu tidak mudah dan diusahain terus-menerus.

memmy said...

Laaaai... Jangan lupa persiapan fisik juga ya. Istirahat yg cukup. Jangan sampai kecapean ngurusin kawinan sampai tumbang hari H. Gue dulu diceritain Irwin kalo ada temennya dia yang istrinya digeber banget nyiapin kawinan sambil kerja. Alhasil pas hari H istrinya sakit (masuk RS) sehingga di pelaminan suaminya mejeng sendiri. Stl sembuh baru deh foto" pake baju penganten. Aiiiih.. Sedihnya bukan maiiiiin...

prin_theth said...

Ladyonthemirror: Pastinya ya Mbak :)

Memmy: Makasih Memmy cantiik :) Iya, so far gue nggak ngerasa kecapekan kok Alhamdulillah, malah suka gatel pengen ngerjain ini itu. Naudzubillah, gue juga sering denger yang begituan... Ada yg calon suaminya kecelakaan motor 3 hari sblm hari H, amit-amiit *ketok-ketok*

panicihuy said...

saya suka paragraf ini,
"Saya sadar, T nggak akan sekedar jadi 'pacar' lagi. He's going to be my husband. We have to bear each other forever. Dengan kata lain, selama nggak melewati batas, saya harus mempertahankan hubungan ini sampe titik darah penghabisan, meskipun lagi super ilfil atau kesel sama segala kelakuan dan tindak-tanduk sang suami. Moreover, even though he may NOT be the best, I have to think he IS the best, because honey, this ain't high school anymore. Nggak bisa putus balik sesuai emosi. Intinya, back to the traditional values: pasrah dan sabar."

insya allah jeng laila cantik luar dalam.. baik pas hri H, sampai setelahnya..
amiiin.. :)

prin_theth said...

Makasih Paniii :) Amin amiin. Emang paragrafnya tulus dari lubuk hati terdalam sih hihi

ochie said...

mb lei,, bener bgt deh.. Klo mau nikah itu meuni byk pisan cobaannya.. Aku jg semenjak abis dilamar, jadi sensitifff bgt.. Ga bisa tersinggung. Langsung mewek. Trs y frekuensi berantem sm calon suami jg makin meningkat. Dua2nya sama2 stress x y.. Mudah2an calon suamiku ini insya Allah selalu sabar ngadepin calon istri yg lg super sensi kyk aku skrg.. Aamiin.. hehe

Klo lg berantem itu rasanya neraka, dan klo udah baikan dan mesra2an lg rasanya surga!
hihi..

prin_theth said...

Ochie: Hihihi pastinya. Apalagi yang namanya 'sabar' itu gampang diucapin aja, dilaksanainnya gak segampang itu hehe. Latian aja utk gak sweat the small stuff, alias gak mikirin yg kecil-kecil, lama-lama santai kok :) Good luck yaa...