Seumur hidup, ini pengalaman food tasting saya yang kedua, setelah dulu food tasting dengan Akasya untuk acara tunangan. Kalo sama Akasya dulu, saya 'diselundupin' ke nikahan orang, trus ditemenin icip-icip dari satu stall ke stall lainnya. Nah, kalo di Shangrila ini kami disediakan ruangan khusus, dan sang chef menyajikan menu-menu yang sudah kami pilih sebelumnya. Horray, private food tasting!
Malam itu, nggak semua menu pilihan kami disajikan. Kebanyakan hanya makanan buffet, dengan seiprit menu stall dan segelintir dessert. Nggak apa-apa lah, toh kalo stall biasanya sud-pas-en. Sudah pasti enak!
Tapi segala semangat saya luntur seketika saat mengunyah suapan pertama. Dan kedua. Dan ketiga.
....
Saya sampe nggak berani liat muka Mamah, takut menemukan taring di balik bibirnya.
OK, I'm not saying that Shangrila's buffet food totally sucks ya, but it's... apa ya... nggak sesuai harapan deh. I would say they have ay lot of room for improvement. Dan dengan ketenaran Satoo, kaget nggak sih lo? Saya aja kaget. Karena Satoo-nya beken banget, harusnya buffet nikahannya juga enak. Eh, ternyata biasa-nyerempet-ke-nggak-enak... Hiks.
Tapi sejujurnya, saya nggak syok kebangetan gitu sih, karena saya memang pernah beberapa kali denger selentingan bahwa makanannya Shangrila kurkuma endeus, cyin... alias kurang enak. So it was kind of expected.
To be fair to Shangrila, pemilihan menu buffet kami juga agak blo'on sih (yes, yes salahkan saya. Dan Mamah juga sih). Kami nggak melihat menunya secara keseluruhan, alias in the big picture. Kami cuma mikirin menunya secara satu persatu, alhasil tanpa sadar saya milih makanan-makanan yang ada jamurnya semua (berhubung eike suka jamur). Jenisnya juga samaaa semua. Warna makanannya pun butek-butek, dengan padu-padanan warna yang nggak cantik.
Peserta food tasting malam itu terdiri dari saya, Mamah, adek saya, pacarnya adek, temennya Mamah, T, dan segerombolan sodara-sodaranya T. It was such an awkward moment, karena kami semua merasa rasa makanannya biasa banget, tapi pada nggak enak untuk ngekritik langsung (terutama sodara-sodara T). Alhasil tampangnya tegang semua, atau buang muka ke Blackberry masing-masing, hihihi. Padahal saya sih cuek aja ya...
Akhir cerita, malam itu hanya Mamah yang mengeluarkan kritikan-kritikan tajam. Nggak pake marah-marah sih, cuma pake bumbu judes aja. Agak nggak tega sama chef-nya yang baik hati. Sigh.
The crowd
The menu
The appetizer
The what what in the butt? Alias lupa.
The buffet dish
The pastries
The Lady Vampirella (alias mama galakku tercinta)
Namun ternyata food tasting tersebut berdampak samping: Hari-hari berikutnya, Mamah gelisah nggak bisa tidur 3 hari 3 malam, memikirkan buffet Shangrila yang kurang nendang, dan di hari ke-4, tercetuslah ide oleh beliau:
"Kakak, makanan resepsi kita jadikan stall semua aja. Ditambah porsinya, tapi nggak ada buffet."
Saya pingsan!!! Sempet bangun, terus pingsan lagi!!!
Ternyata dese nggak berani ambil resiko ya!
Update 1: Rencana bombastis tersebut nggak jadi terlaksana, karena pihak marketing yang asem langsung menyodorkan harga yang tinggiiii sekali, kalo Mamah berani ambil 100% stall semua. Ya iyalah yaaa... Alhasil kami kembali ambil buffet deh, tapi musti super dipilih dan diawasi dengan mata elang!
Update 2: Mamah memutuskan akan ambil corkage (nambah makanan dari luar, tapi harus bayar fee tertentu kepada pihak hotel), yaitu sushi dari Makisu, dan Coto Makassar. Hampir nerbangin Sop Pallubassa Jl. Serigala dari Makassar, tapi pas mikirin administrasi nerbangin kontainer-kontainer makanan tersebut, kami langsung mendadak meriang. Coret!
Dan sekarang kami sedang mempersiapkan diri, solat hajat tiap hari, untuk food tasting kedua wiken depan dengan susunan menu baru. Ganbatte!
4 comments:
ehhmmm... satoo... pallubassa jl. serigala *ngecess
btw lei, meinkors buffetnya emang nawaitu 8 jenis?
waktu itu gue dari paket 7 jenis. trus gue nego. 5 ditaroh di buffet, 2 ditarik ke food stal tapi minta tuker menu yang lebih maknyuss *ogi-ogah rugi*
8 jenis karena udah titahnya begitu euy dari hotel. Nggak tau sih kalo bisa dituker. Mari nanti kucoba deh :D Thanks for the tips!
ngakak waktu baca "Lady Vampirella" masih mending lah maminya mba lei berani fight langsung sama vendor lah waktu gw dulu si mamah beraninya nyuruh gw yang protes.
Jadinya sampe sekarang tukang tenda sama dekorasi dikampung gw masih mengenang gw sebagai Penganten Judes ::sigh::
Hahahaha, naaah, sekarang sering-sering aja kirim parcel atau kue ke vendor-vendor tersebut, biar predikat Mbak berbalik!
Post a Comment