(Masih!!) Jumat, 12 November 2010
Hari ini memang terasa lebih lama dibandingkan puasa hari pertama... bagai tak berujung...
Hari ini memang terasa lebih lama dibandingkan puasa hari pertama... bagai tak berujung...
Sayangnya, setelah Siraman, terjadi drama kecil yang disebabkan oleh tanteku sendiri. Tapi sebelumnya, mari saya beri sedikit penataran mengenai keluarga saya:
Dalam situasi pesta, keluarga Bugis saya tercinta ini memang selalu menjadi mimpi buruknya WO. Selain datangnya PASTI ngaret (mulai dari bocah piyik sampe sesepuh, tukang ngaret semua!), mereka juga suka bikin inisiatif sendiri.
Contoh nyata terjadi di pagi hari ini. Harusnya udah jelas dong ya, acara pagi itu cuma Ngaras dan Siraman, sore harinya baru ada Ngeuyeuk Seureuh dan Mappacci. Tau-tau seorang Tante dari pihak bokap berinisiatif mau membuat upacara adat khas Bugis -- yang bener-bener di luar jadwal -- yang hendak dilaksanakan tepat setelah Siraman.
Bener-bener nggak ada pemberitahuan sebelumnya lho. At least pagi-pagi sebelum Siraman gitu kek ya? Nggak ada, seus. Tiba-tiba eng ing eng, udah dateng bawa peralatan upacara.
Saya diberitahu saat sudah balik ke kamar penganten, dengan kondisi masih basah kuyup dengan air siraman. WO saya bisik-bisik, "Neng, kamu disuruh turun... Katanya Puang Nur mau bikin upacara Bugis satu lagi buat kamu..."
Vwat?! Kok si Tante ngigo sih, asal nyelipin acara sendiri di tengah-tengah jadwal yang sudah tersusun rapi ini? In her defense, Tante saya yang ini emang udah sepuh banget sih, jadi kadang suka nggak mudeng sama sikon. Upacaranya pun sebenernya nggak heboh. Katanya cuma suap-suapan kue tradisional sebagai simbol apaaa gitu. Tetep aja rempong 'kan jeeuung...
Maka dalam hitungan detik, saya langsung berembuk dengan orangtua dan WO. Hasilnya adalah: kami akan menghindar dari si Tante dan pura-pura nggak denger kalo dipanggil ahahaha...
11.30 Beneran lho. Akhirnya pihak-pihak krusial (saya, orangtua, dan WO) bener-bener ngumpet, pokoknya asal nggak ketemu sama si Tante. Sampe akhirnya adzan sholat Jumat berkumandang, dan semua tamu bubar. Batal deh upacaranya! Howrey! *tebar confetti* Yang menjadi masalah, apakah si Tante bakal ngambek dan mengutuk saya jadi batu? Atau at least membajak resepsi nanti? Tapi ya sutra lah yaaa...
Kelar urusan drama, saya mandi dan membersihkan diri, lalu kembali ke tampilan favorit -- kaos dan sarung macam hansip -- dan siap-siap bobok.
Yes, selesai Ashar nanti, saya musti menjalankan upacara Ngeuyeuk Seureuh dan Mappacci sampe malem. So it's better to take a nap.
12.00 Oh, oh... Apakah saya dikutuk oleh Puang Nur? Karena mendadak, dari siang sampe sore saya terjebak dalam kondisi yang paling menyebalkan -- ngantuk tapi nggak bisa tidur, laper tapi males makan. Tragedi! Akhirnya saya cuma gulang-guling di kasur, sementara sepupu-sepupu lain udah pules ngorok di kanan-kiri saya. Sebeeel... Dan ketika akhirnya saya mulai memasuki fase 'kriyep-kriyep', ndilalah kamar malah digedor. Udah musti dendong lagi aja lho seus, alamakjaaang...
14.30 Kembali ke meja rias bersama Tante Hetty dan team.
Meski awalnya hawa kantuk membunuhku, pada akhirnya saya sama sekali nggak nyesel batal tidur siang demi siap-siap Ngeuyeuk Seureuh. Rasa ngantuk saya langsung pudar ketika melihat hasil riasan Tante Hetty di sore hari itu -- nampol, jek! Seriously halus dan manis banget. Subhanalloooh... Padahal menurut saya tekniknya biasa aja lho, tapi nggak tau kenapa hasilnya bisa apik. Apakah ini karena campur tangan Sephora? Atau santet? Coba saksikan aja transformasi dibawah ini:
Waw, mejik! Merubah pensil warna menjadi cat air!
Alhamdulillah, hati bener-bener adem gemah ripah loh jinawi dengan hasil riasan Tante Hetty untuk saya. Nuhun pisan ya Tante *sun tangan* Bener-bener nggak salah pilih perias :)
16.00 Para tamu agung yang ditunggu, alias kakanda T dan keluarga besar, akhirnya tiba.
Dalam adat Sunda, proses memberi dan diberi seserahan terjadi saat Ngeuyeuk Seureuh ini, maka keluarga T datang bersama kotak-kotak seserahan untuk saya, dan acara ramah-tamah pleus tuker-tukeran seserahan antara dua keluarga pun berlangsung.
Ketika seserahan dibawa beriringan ke kamar penganten, yang saya rasakan adalah...
... hampa. Ya wong gue sendiri yang ngurus pembelian dan pembungkusan setiap barang seserahan! Jadi bener-bener nggak ada rasa penasaran ataupun surprise sedikitpun. Apalagi T nggak punya inisiatif menambah unsur kejutan, misalnya, nyelipin sekantong berlian atau tengkorak manusia gitu kek. Nggak seru ya?
Maka sewaktu WO saya heboh ngebisikin, "Neng, kamu udah liat seserahannya belum? Kamu dikasih DSLR Canon! Iiih pengeeen..." Tentu saja saya merespon dengan "Oyaaaaa?" dengan nada kaget palsu. Lha wong T beli kameranya bareng saya. Pake keringet dingin pula, takut tabungan jebol. Zzzzz.
Meski demikian, saya tetep cengar-cengir bahagia melihat hasil hias seserahan The Box bisa rampung dengan rapih dan apik. Memang lega ya kalo semua berjalan sesuai ekspektasi.
16.00 lewat dikit... MC adat sudah memberi aba-aba dari lantai bawah, pertanda saya harus turun untuk bertemu keluarga besar, dan memulai upacara Ngeuyeuk Seureuh. Bismillahirrohmanirrohim, bismillahi mahjreeha wa mursaha, inna robbi laghafuururrohiim. Jebret! Mainkan!
Cieee, ketemu T niyeee. Sore itu T tampil dengan gaya Pak Lurah, komplit dengan celana hitam, peci hitam, dan kemeja batiknya. Meski begitu, do'i tetap kece dimataku, karena kami sudah lama sekali tak bertemu (alias cuma 2 hari... pret).
Ketauan pisan nggak biasa pake bustier... Duduknya tegak bener jeh, kayak duduk di sofa berduri
Setelah tatap-tatapan dan saling tersipu malu-malu najis, kami pun digiring menuju tempat Ngeuyeuk Seureuh.

Ngeuyeuk Seureuh adalah upacara adat Sunda yang dilaksanakan sehari sebelum hari pernikahan. Intinya adalah menasehati calon penganten tentang kehidupan berumah tangga, namun diperagakan lewat berbagai barang. Soalnya, jaman dulu 'kan calon penganten suka masih pada lugu-lugu dan perawan tingitng (kalo jaman sekarang enggak ye?), jadi harus bener-bener dikasitau dan diajarin sebelum menikah.
Selama upacara, perlengkapan Ngeuyeuk Seureuh ini dihamparkan di hadapan mempelai dan orang tua. Acara ini dibimbing oleh seorang sepuh / Ibu Adat, diiringi tembang Sunda (the infamous cap-sul a.k.a. kecapi suling!), dan dihadiri oleh kedua keluarga besar. Acara berlangsung selama lebih kurang satu jam.
Yang mengkhawatirkan adalah: saya sama sekali nggak dikasitau Ngeuyeuk Seureuh ini bakal kayak gimana. SAMA SEKALI. Well, I know it's gonna be a subtle sex education, plus nasehat-nasehat pernikahan ala Sunda, tapi saya pengen tau detailnya juga dong. Masalahnya, tiap nanya ke Tante Hetty, jawabannya selalu, "Ada deeeh..." Ngok. Kalo main rahasiaan gini, kayaknya bakal ada unsur dikerjainnya deh...
16.30 Setelah dibuka dengan doa, Ngeuyeuk Seureuh dibuka oleh sang Ibu Adat.
Kalo boleh jujur, saya nggak inget semua tahap Ngeuyeuk Seureuh yang kami jalankan, jadi ta' ceritain langkah-langkah yang saya inget aja ya:
Pemotongan Benang Tujuh helai benang kanteh sepanjang dua jengkal dipotong oleh kedua calon mempelai, bersama masing-masing ortu. Pemotongan benang ini menyimbolkan bahwa si anak sudah waktunya lepas dari sayap orangtua dan memulai biduk rumahtangga sendiri. Sebelumnya, sang anak harus minta ijin kepada orangtua untuk memulai rumah tangga sendiri. Sebaliknya, sang orangtua mesti memberi nasehat kepada sang anak,
Membuka sebuah buntelan yang ditutup oleh selembar kain putih yang disebut 'pangeyeukan'. Maknanya berarti bahwa rumah tangga kami yang akan dibina ini masih putih bersih, hendaknya jangan sampai ternoda.
Isi buntelannya adalah jas untuk T. Jas ini memang saya yang nyiapin sih, karena diminta sama Ibu Adat, tapi saya nggak tau bahwa akan dipake untuk Ngeuyeuk Seureuh. Kata si Ibu Adat, jas ini melambangkan posisi T sebagai kepala rumah tangga nanti. Cuileh...
Kemudian, jas ini ditarok diatas sarung yang disebut 'polekat', dan musti dibawa ke kamar pengantin untuk disimpan. Lucunya, saya dan T harus lari menggotong buntelan jas ini dan kembali lagi ke tempat Ngeuyeuk Seureuh hanya dalam hitungan 5 detik. Ebuset! (tentu saja si Ibu Adat ngitung 5 detiknya becanda... "Satuuu.... oke, ibu-ibu kita lihat apakah mereka bisa membawa wasweswos.... Duaaa.... wasweswos... Dua setengaaah..." Aslinya mah kayaknya 10 menit). Demi Allah, sampe sekarang saya nggak tau apa tujuannya. Mungkin supaya kami sigap bekerjasama dalam berumahtangga nanti? Supaya siap ikutan Amazing Race?
Natasha dan Om Hussein Sastranegara doang mah kalaaaah!
Walaupun sempet kaget disuruh lari-larian, we tried to do it as best as we can. Kami berlari-lari imut menuju kamar sambil cekikikan, sambil berusaha nggak keserimpet kain. Saking buru-burunya, pas balik, saya ngelangkahin mertua yang duduk di lantai tanpa permisi, dan hal ini disinggung sama si Ibu Adat. Hoahaha! Belum apa-apa udah ketauan jadi menantu kurang ajar. Tabiat asli emang nggak bohong...
Merogoh dibalik tikar, dan langsung melempar apa yang kami temukan disana. Dibalik tikar di hadapan kami, sudah diselipkan berbagai makanan seperti kue-kue dan buah. Saya dan T harus merogoh tanpa ngeliat, dan harus langsung dilempar ke para hadirin. Katanya, makna merogoh dibalik tikar itu adalah, kita nggak pernah tau apa yang akan kita hadapi dalam rumahtangga. Dan makna melempar-lempar adalah supaya kita selalu membagi-bagikan rejeki yang kita dapat ke orang lain (perasaan upacara adat Sunda tuh emang seneeeng banget main lempar-lemparan alias saweran. Ngelempar masalah iye!)
My favorite part, tentu saja, adalah upacara membelah mayang. Ya iyalah, karena dalam Ngeuyeuk Seureuh, membelah mayang tuh sama simbolisasinya seperti belah duren. Ahahahaha!
Meski belum pernah dikasih penataran soal Ngeuyeuk Seureuh, saya sih paham soal ini, tapi T sama sekali nggak tau menau. Jadi walaupun bimbingannya udah saru dan bokep berat ("Ayooo, Uda T silahkan dibelah mayangnya.... Yang lembut atuh, pelan-pelan, dibelai dulu biar lancar...."), T nggak pernah ngeh apa maksudnya sampe akhir acara, padahal saya udah ngakak-ngakak sampe nangis.
Heits, Papa mertua lagi ngapain tuuu...
Karena ke-plongo-an T dalam membelah mayang ini, dese ngebelahnya bener-bener kayak tukang daging... srat srat asal gitu, kasar bener (untung aslinya kagak ahahaha). Dan pada akhirnya, ternyata T salah ngebelek. Bukannya dari atas ke bawah, ngebeleknya malah dari bawah ke atas. Jadi begitu kembang mayangnya dikeluarin, T sebenernya lagi megang pantat saya instead of kepala saya. Horeee! Makin ngakak jaya!
Kesaruan membelek mayang dilanjutkan dengan upacara menumbuk halu ke dalam lumpang, salah satu upacara krusial dalam Ngeuyeyuk Seureuh. Tanpa harus dijelasin, udah tau lah ya, adegan menumbuk ini lambang dari ngapain. Bahkan sebelum 'numbuk', T harus megang halu-nya, dan disuruh bikin deklarasi "Lei, ini punyaku. Punyamu mana?" Lalu saya harus menyorongkan lumpang sambil ngomong "Ini punyaku...". Trus ditumbuk deh! Buseeet, bisa lebih bokep lagi nggak sih? Rasanya saya ngakak sampe ngompol dikit deh... Sirnalah senyam-senyum angkuh (sok) anggunku...
Tapi cara menumbuk kami dinilai salah oleh Ibu Adat. Katanya maklum, 'kan kami masih amatir (halah!). Dengan demikian, halu dan lumpang dioper ke orangtua, supaya mereka bisa mencontohkan cara menumbuk yang baik dan benar. Hoahahaha.
Pas giliran orangtua saya, mereka sih santai, bisa play along lah. Tapi pas giliran orangtua T.... nah, susah deh. Pasalnya, orangtuanya T adalah tipe ortu kaku yang paling malesbanget.com bermesraan atau becanda jorok. Papanya T dokter pula, jadi bawaannya serius. Alhasil, waktu disodorin halu dan lumpang, mukenye langsung asem. Menumbuknya pun kaku sangat. Bahkan coba perhatikan, ketika upacara berlangsung, papanya T malah main HP demi mengalihkan malu, hahaha.
PAPA'S BUSTED (again) !!!
Maafkan geng Sunda cunihin ini ya Pa, Ma... Semoga nggak dendam...
Upacara Ngeuyeuk Seureuh ditutup dengan pembagian bingkisan kepada para sepuh, dimana setiap barang dalam bingkisan tersebut mempunyai makna tersendiri.
Dan terakhir, saya mesti kembali menyawer kain batik ke hadirin dan hadirot sekalian, dimana kebrutalan di antara ibu-ibu kembali terjadi. Heboh! Eliiing ibu-ibu... istighfar inget anak suamiii...
17.30 Selesailah upacara Ngeuyeuk Seureuh Lei dan T :) Alhamdulillaaah.... Tinggal foto-foto bersama...
Makan-makan...
Dan terakhir, menyerahkan angsul-angsul atau seserahan balik untuk T, ketika keluarga mereka pamit pulang.
Sayonara, sampe berjumpa lagi! Selamat beristirahat, sementara CPW masih ada satu acara lagi malam ini: upacara mappacci. Gusti Tuhan nu Agung, kapan berakhirnyaaa...
Ngeuyeuk Seureuh Lei + T
Perias & Ibu Adat Ibu Hetty Sunaryo & team
Peralatan Ngeuyeuk Seureuh Ibu Hetty Sunaryo & team
Kebaya Lei Eddy Betty
Katering Gandrung
Hias Seserahan The Box dan House of Seserahan
Perias & Ibu Adat Ibu Hetty Sunaryo & team
Peralatan Ngeuyeuk Seureuh Ibu Hetty Sunaryo & team
Kebaya Lei Eddy Betty
Katering Gandrung
Hias Seserahan The Box dan House of Seserahan
Dokumentasi Lifestyle
Event Organizer Lin's Signature
Event Organizer Lin's Signature












































































29 comments:
hahahaha.. buat ngeyeuk seureuh ini mah cuma satu kata : cunihin! :))
hahaha,, ga berenti ngakak trs baca blognya mb laila ini deh.. Lucu banget ya mb papa mertuamu.. Numbuknya kaku beneur.. hahaha
Untungnya pas kejadian sebenernya dari membelah mayang, uda T nya ga kebalik tuh, ga kebayang klo pada kejadian sebenernya mb laila diperlakukan uda T nya kebalik kayak pas belah mayang itu.. hahahahahahahahaha
Idih, ternyata adat sunda itu seru abis deh..
ah leiii... kamu mah mau tidur atau ngga tidur 7 hari 7 malem teteup fresh n cantiiikk aja... mau senyum jaim atopun ngakak gila...teteuppp geulis... :)
seruuuu bgt yahhhh ngeuyeuk seureuh..
yeeee udh ada postingan baru....
oh mi goshhhh mba leii dirimu ini pake susuk apaa sihh kok diapaaainnn aja teutepp cantikkkkk.....
Seruu bangettt ya rangkaian acaranya mba leii....ga sabarrr nunggu postingan postingan berikutnyaa*dipecut biar rajin nulisnya* wkwkwkkwk :D
mba lehaaaaaaaaaaaaaaaa!!
geulis pisan si maneh sumpahhhhhhh.. :D
All: Aaaah, pada gombal kalian semua!!! *sembari nutupin GR dipuji cantik*
Emaaang, adat Sunda tuh cunihin pisan. Pornoisme! Hahaha. Menikahlah sama orang Sunda, dan jangan lupa minta diadain Ngeuyeuk Seureuh yaaa... Pasti seru banget. Dan meskipun T Ngeuyeuk Seureuh-nya agak-agak o'on, alhamdulillah prakteknya pinteeer banget!
Hmmmm...mungkin si mertua emang kayak gitu gayanya dia pas "me-lumpang-alu". Didahului dengan mainan HP, gak pake foreplay and kaku-kaku. *gue ngomong paan sih*
aduh lei. ternyata gt ya yang namanya ngeyeuk seureuh. baru tau. aduh. nggak bisa berenti ketawa. aahahahahahahahahhahah....
hahaha... postingan ini yang paling ditunggu.
keliatan serius banget T pas membelah mayang.. xixixi.. overall cantik banget dirimu dalam suasana apapyun. ^_^
ooo, jd ngaretnya diwarisin dr sono. ngeresnya diwarisin dr mane, la? ;)) :P
favorit banget gw ama adat halu vs lumpang itu! sayang knp di ada jawa ga ada ya.. hahhahaha
Harus yaaaa... foto BEFORE make up-nya? LOL!
Aaah.. i love the spirit oknum ibu yang walau penampakannya sudah ngepit (yang sepertinya) payung, bawa apel, jeruk, keranjang, masih sigap mau nangkep lemparan loe =)
Lei..ketauan banget lo bedua napsu ya numbuk numbuknya!!? hahahahha...tuh ketawa lo gak ada yg lebih lebar lagi yak?! hhahahha...
seru-seru..gw gak pernah tau soal adat sunda kayak gini...
Alhamdulillah, makasih kalo teteuup dipuji cantik. All credits goes to Tante Hetty Sunaryo, beneran deh.
Leony: Well, that would be a nightmare for my mama mertua hahahaha
Andy: He? Siapa yang ngaret dan nggak ngeres? Nggak mungkin putri begini tabiatnya begitu!
JJ: Hareus. Emang ya, kalo ibu-ibu yang udah jadi IRT aja (nggak ngantor) semangat kompetitifnya disalurkan ke hal-hal begini. Semangat!
Gethi: Iiiih sori yaaa, kita mah alus banget numbuknya. Malu-malu (tapi mau)
Lei, i looove how you put the story on words. Lucu dan bikin pengen baca terus. nggak heran jadi kecanduan blogwalking ke sini. Adore you so much! :)
Aah, Citra kamu berlebihan *blushing* Huihuihui thank you yaa :) Come agaiin! *ala di restoran*
hahahah...jadi gituu tookh arti2annya.
Jadi agak nyesel dulu keukeh gak mau pake acara adat apapun , baik Jawa maupun Sunda. Berasa ribet sih..tapi pas d lihat foto2nya lempeng kaku semua :p
Dandanannya kereen mbakk :D
Uul: Hehehe. Ribet mungkin iya yaaa, tapi sekali seumur idup Ul! Nggak akan mungkin ada kesempatan kedua untuk ngerasain ngejalanin semua adat ini lagi :D
Lei mau tanya, kamu pake dekorator untuk acara ini siapa? Boleh minta kontaknya? Thank uu..
leeii...
subhanallah, meni geulis pisaaaaannn....:')
gak sabar pengen baca cerita-cerita berikutnyaa...:D
Dian: Emailnya apa? Nanti gue japri yaa :)
Lomita: Iiih, alhamdulillah jampi2nya sukses hihihi
Email daku : dwaskita@gmail.com
Thank you ya leeii... Ur blog is really inspiring :)
hahaha lei nulisnya kocak bangett...
Salam kenal mbak...
seneng lho baca blognya..kocak, bagus banget foto2nya..
Berti: Salam kenal juga Berti :) Makasih yaaa!
leiiii...ampuuunnn..indahnya acara ini... mauu.. >.<..
leiii.. vendor dekornya pakai siapa leii.. mau kontaknya juga donkk.. kalau boleh, tolong emailkeun ke madha_syra@yahoo.com ..
bermilyar2 hatur nuhuun...
Ekor bebek: Aduh, iya makasih ya, tapi jangan terror ya, aku takut.... xD Vendor dekornya adalah Nefi House Of Inspiring Decoration & Flowers. Google aja ya...
huahaha, beda bgt sama gw dong yaaa.. walopun camer adalah dokter n imam mesjid tapi kalo ngomong dirumah ngasal abis, kaget awal kenal *ehhh buset.. tapi alesannya malah "kan kita keluarga dokter''
ohh my God
Annisa: Waw! Hahaha awkward banget dong ya! Kalo gitu kayaknya aku bakal kabur ke kamar mandi, sumpel kuping pake kapas!
Post a Comment