Friday, December 3, 2010

DI BALI: MAU NGAPAIN AJA?

Setelah sesi brainstorm dengan sang suami di suatu pagi, we finally know!

I think.

And here they are:

Bali Agung show at Bali Theatre

Terakhir kali saya ke Bali tuh sekitar tiga bulan lalu. Waktu baru sampe di bandara Ngurah Rai, pikiran saya jelalatan, enaknya kali ini ngapain dan kemana aja ya... Tiba-tiba mata saya bersibobrok dengan sebuah papan reklame yang mempromosikan sebuah pertunjukkan bertajuk Bali Agung at Bali Theatre.  Afaan nih? Kok bisa ada show di Bali yang nggak pernah gue tau? Aku tersinggung! (halah). Tanpa basa-basi, langsung saya talifun hotline-nya. Napsu yaaa…

Ternyata, dia adalah stage show baru, dan merupakan bagian dari atraksi Bali Safari & Marine Park. Ooo ya ya.

Sayangnya, tiga bulan lalu itu mereka masih baru dan belum tampil setiap hari. Alhasil, waktu saya disana, mereka lagi nggak main. Cuih! Tapi tak apa. Nama mereka sudah terpatri di hati, and I’ve promised myself to see the show on my next trip.

And here comes the next trip.

Maka saya ajaklah si T, “Suami, di Bali kita nonton sow ini yuk?”

Siapa sangka, siapa nyana. Dibalik penampilannya yang gagah perkasa dan tattoo jangkarnya di tangan (nggak deng), T tuh suka seni pertunjukkan lho, terutama tari. Wallahualam deh sebenernya ngerti apa nggak, tapi pokoknya semangat lah kalo diajak nonton sow-sow-an gitu. Jadi begitu kutawarkan nonton Bali Agung, si suami menyambut dengan suka cita. Yay!

Ditilik dari sinopsis dan cuplikan video-nya, keliatan bahwa Bali Agung adalah pertunjukkan teatrikal modern yang mengadaptasi legenda Bali yang sudah ada. Set panggung dan kostumnya sih nampak keren, dan yang pasti musikal, meski kayaknya belum se’padat’ dan seatraktif, let’s say, Broadway's Lion King.

En den, karena Bali Agung adalah show-nya Taman Safari, sudah pasti mereka memanfaatkan hewan-hewan mereka sebagai ‘properti pertunjukkan’, mulai dari gajah, macan, onta, keong racun...







Padang-Padang Beach vs Nammos Beach Club

By now, frequent travelers should already know this very well—Bali is not a beach destination anymore.

Sebenernya ini udah banyak didiskusikan di berbagai travel forums ya. Masalahnya, Indonesia terlalu dekat dengan Thailand, Australia, dan negara-negara tersebut menawarkan pantai yang kualitasnya jauh lebih baik daripada (mayoritas) pantai Bali sekarang ini. Jadi kalo mau ke pantai, turis mending melipir ke negara tetangga kali ya. Nggak usah sampe Thailand atau Australia deh, banyak tempat lain di Indonesia yang pantainya lebih bagus daripada Bali, misalnya Papua.

Definisi bagus (untuk turis): pasirnya bersih, nggak terlalu banyak koral, dan air lautnya bersih, tanpa sampah atau residu minyak yang walau tipiiis tapi tetep berasa.

Untuk frequent travelers yang udah pernah ngerasain berbagai pantai, standar mereka jadi tinggi dong ya. Dan tampaknya pantai Bali udah nggak memenuhi standar itu lagi.

Disappointed? Nggak juga sih. Abis sejak pantai Bali jadi jorok dan terlalu penuh sama ABG mabok, siapa juga yang napsu kesana…

Meski demikian, kalo ke Bali tanpa ke pantai tuh sebenernya kayak makan sate pake sendok garpu ya. Ada yang aneh, gitu!

And so the hunt for the decent beach is on.

Apparently, sedikit dari pantai yang accessible untuk turis tapi belum terlalu ‘tercemar’ adalah pantai-pantai di daerah Uluwatu, yang membawa perairan Samudra Hindia, diantaranya Padang-Padang dan private beach-nya Karma Kandara.

Padang-Padang adalah pantai umum, sehingga nggak ada biaya masuk, tapi fasilitasnya pun nggak ada, seus! Kalo mau pipis, mandi, atau duduk-duduk di kursi pantai, harap pikir sendiri. Sementara pantainya Karma Kandara, yang dikelola oleh Nammos Beach Club, adalah pantai private yang ada biaya masuknya. Tapi ada harga, ada rupa—akibat biaya masuk yang Rp 250,000 / orang itu, Nammos Beach Club menjadi relatif sepi, lebih tenang, alhasil pantainya lebih bersih. Kita pun bisa pake toilet dan kursi pantai mereka. 

Padang-Padang



Nammos Beach Club



Of course, hal ini menjadi bahan debat. Princess mau ke Nammos, pleeease! Akyu tak mawu mandi pake Akwa! Remfong! Tapi suami Minangku tentu saja menolak mentah-mentah kalo harus keluar duit segitu banyak hanya untuk ketemu pasir dan air asin. Kesimpulannya? Masih liat nanti. 

Mungkin kalo diancem nggak dikasih jatah, T mau kali ya ke Nammos hihihi.

Rock Bar

This one is for you, T, because you know, kalo aku nge-lounge, nggak ada lima menit langsung bobok.

Serius ya, beach side lounges di Bali itu kayaknya lebih cocok jadi peraduan dibanding tempat nongkrong. Contohnya, KuDeTa. Kursi gede, bantal empuk, musik sepoi-sepoi, angin pantai semilir, siapa yang nggak pengen tidur? Jadi, kalo nggak rame-rame, I seriously find lounging as extra boring, not to mention sleep-inducing.

But apparently, T looooves beach side lounges, gegayaan minum cocktail sambil menatap sunset. Halah! Dan kami berdua belum pernah ke Rock Bar di Ayana Resort yang lagi ngehit-sehit-hitnya selama setaun terakhir ini. Jadi ya otomatis, sowan ke Rock Bar wajib dimasukkan ke dalam ajenda. Capcus!




Pertunjukkan Tari

As cheesy as this may sound ya, saya dan T mencintai pertunjukkan tari sepenuh hati kami.

Catatan mengenai tari Kecak: hampir semua orang merekomendasikan nonton Kecak yang di Uluwatu, mungkin karena lokasinya yang indah bin majestic -- di tepi tebing aja gitu, buok. Tapi pertama dan terakhir kali saya nonton Kecak di Uluwatu di taun 2008, saya langsung ilfil bubar hello-goodbye!

Menurut saya tariannya nggak terlalu jelas dan rapih. Pelantun cak-caknya juga nggak konsisten dan nggak fokus, malah plirak-plirik noleh kanan-kiri. Tapi yang paling bikin ilfil adalah tarian Kecak-nya yang dimodifikasi gila-gilaan. Waktu itu bulan Desember, dekat dengan Natal, trus si Hanoman-nya pake topi sinterklas aja gitu. Kemudian ada adegan berantem yang dibikin lucu-lucuan (tapi nggak lucu), dan pake ada kata-kata Fuck You segala. What the--?

Mungkin saya lagi suwe’ aja ya. Lagi apes, kedapetan grup sendratari yang nggak bagus ('kan ganti-ganti tiap malem). But you know how first impression determines everything ‘kan… Maka sejak itu saya males jauh-jauh ke Uluwatu lagi hanya untuk menyaksikan tarian yang nggak jaminan bagus.

September kemaren, saya nonton Kecak lagi di Pura Dalem Ubud, dan subhanallah, grup sendratari-nya baguuus banget. Tariannya sangat rapih, pelantun cak-caknya bersemangat dan fokus, dan Fire Dance-nya bikin hati super deg-degan saking serunya. Itu lho, tarian dimana penarinya kesurupan dan nginjek-nginjek sabut kelapa terbakar dengan mata tertutup. Saat dese disadarkan oleh sang pandita, saya langsung mau nangis. Mana saya perginya sendirian pula, tambah merinding!

Kesimpulan: mau nonton tari-tarian dimana aja sebenernya sama aja. Kuncinya adalah untung-untungan dapet grup sendratari yang bagus.

Canoe + Cycling


I’ve done rafting, cycling, hiking, sailing and many other things in Bali, but not canoe-ing! Maka waktu pertama kali denger ada tour yang melayani naik canoe (karet, bukan kayu) keliling Danau Batur, saya langsung tepuk-tepuk tangan suka-suka. Sounds very interesting indeed, apalagi buat saya yang suka banget liat alam sambil intip-intip pedesaan.

C.Bali ini menyediakan paket ½ hari dan 1 hari. Sebenernya T dan saya yang muda-tapi-jompo ini merasa cuma sanggup ikutan tour yang ½ hari, alias canoe-ing dong. Tapi nasib suwe’ oh suwe’, tour ½ hari lagi nggak available, maka kami ‘terpaksa’ ikut tour yang sehari penuh, meliputi naik canoe dan bersepeda naik naik ke puncak gunung, lodoh lodoh sekali.

Hiks, siap-siap segala salep otot ya T. Terakhir kali saya ikut tour sepedaan di Bali, pulang-pulang mau nangis. Capek dan tantangan endurance banget! Sial, kirain cuma sepedaan santai di pedesaan, kayak fun bike oma-oma, ternyata off trail keluar-masuk hutan!



Spa
Nggak perlu dijelasin kenapa. Lokasi: Maya Ubud, because it's probably among the best spa I've ever experienced in my whole lifetime.

We’ll be leaving soon, dan doa saya masih sama seperti doa jaman sebelum kawinan: SEMOGA NGGAK UJAN!!! Amiiin :)

3 comments:

Gemma said...

La,
ngga perlu sepedaan laaah, kalo tiap pagi, siang, malem selama di Bali lo rutin ibadah nanti nasib tulang selangka kalian juga bakal mirip pegelnya kayak abis tour de Bali!

Enjoy your COCKtail yaa! hihihi...

prin_theth said...

GEMMA GEBLEK! Ahahaha... Kayaknya mendingan gue bawa kompres ya daripada le to the des (ya oloh, bicarannya Super Meledak dibawa2 ke ranah publik)

lomita said...

sounds interesting and so much fun! :D
ternyata bali gak se-boring yang dibayangkan yaaa...hehehe