Maafkan aku Gusti Allah kalo ini akan terdengar kurang ajar, tapi kadang-kadang, saya pengen punya steteskop ajaib dan mengorek isi otak dan hati mamaku.
My mother -- just like T -- isn't the most focused person in the world, as in, her mind wanders off when we discuss a subject. Mungkin ini bisa ditolerir jika diseimbangkan dengan kelembutan hati, tapi sayang, egonya juga tinggi. Susah ya.
Sejak awal sekali, mungkin 2-3 bulan lalu ya, kami semua sepakat bahwa jumlah tamu lamaran akan sejumlah X. Tidak lebih tidak kurang. Setengah X menjadi porsi tamu keluarga T, setengah X menjadi porsi tamu keluarga saya. Hal ini sudah berulang kali disampaikan depan mamaku, ketika berhadapan dengan berbagai vendor.
Maka mulailah saya dan T berjibaku dengan daftar nama: siapa yang diundang, siapa yang tidak. Karena keluarga kami gede banget, menurut perhitungan, kami hanya bisa mengundang om-tante, dan sepupu langsung. Keponakan agak susah dapet tempat, dan teman pun hanya sedikit. Masih wajar dong?
Semua akur? Ternyata tidak.
Baru sekitar lima hari lalu, Mamah ngomel, kenapa sepupu bokap (ya, sepupu bokap, bukan sepupu saya) dan keponakan-keponakanku (anak-anaknya sepupu saya - yang jumlahnya ada 25an bocah) nggak diundang. Bok?!
Nyokap parno banget kalo ada famili bokap yang nggak diundang dan tersinggung, tapi masalahnya, keluarga bokap itu gede sekali, dan semuanya saling dekat. Kemudian nyokap meratap, karena menurutnya, beliau nggak pernah tau bahwa porsi undangan keluarga kami hanya setengah X. Nyokap kira, porsi kami ya X. Seluruhnya.
(misalnya, total undangan kami 10. T dapet 5, gue 5. Selama ini nyokap kira keluarga gue dapet jatah 10 tamu, sementar T 5. Jadi total 15 tamu. Duile...)
Saya coba jelaskan, nggak mungkin Mamah nggak tau. Lha wong udah dibahas ratusan kali di depan berbagai vendor. Itu 'kan salah satu pertanyaan utama vendor. "Ya Mamah kira 'kan jumlah X tamu itu buat kita doang, bukan total. Lagian kenapa sih T banyak banget bawa tamu? Coret-coretin aja daftar dari dia!"
Tanpa kompromi, nyokap minta jumlah tamu ditambah 50%.
Saya mangkel bewrat. Masalahnya, saya udah pesen kursi, makanan, dan tenda sesuai dengan jumlah tamu yang disepakati bersama. Dan dari dulu, setiap ngebahas bujet pun nyokap marah-marah karena merasa kemahalan. Porsi makanan minta dikurangi, anak-anak kecil ntar dipangku, dan temen-temen saya disuruh berdiri aja (alias nggak dapet kursi). Mungkin lama-lama mereka disuruh ngemil beras aja. Nah, sekarang jumlah tamunya minta ditambah. Ane kirain kagak ada duit!
Lagian, kenapa lamaran jadi rame begini ya. Saya hampir setuju ketika T mengusulkan kami diem-diem panggil KUA aja sekalian, karena skalanya sudah hampir seperti pernikahan. Rasanya bener-bener mustahil ya bagi saya, untuk punya pernikahan kecil dan simpel seperti di majalah-majalah luar.
Akhirnya saya dan T kembali lagi dari nol, menghitung ulang jumlah biaya dengan penambahan ini, sekaligus memperkirakan yang paling penting - tempatnya muat nggak ya? (note: we're not using the backyard)
Minggu depan saya akan menelpon para vendor, untuk menyampaikan berita gembira ini (karena nambah pemasukan ya bok) untuk mereka... suka untukmu, duka untukku deh.
No comments:
Post a Comment